teks

SELAMAT DATANG DI BLOG BPP KECAMATAN TIRISblink>

Minggu, 13 Mei 2012

PESTISIDA NABATI BPP TIRIS


CARA PEMBUATAN PESTISIDA NABATI
Oleh :
ANANG BUDI PRASETYO,SP
PPL BPP TIRIS PROBOLINGGO

 

1.       Memandulkan Tikus:

Bahan:
1.Umbi gadung KB 1 kg
2.Dedak padi 10 kg
3.Tepung ikan 100 gr
4.Kemiri beberapa biji
5.Air secukupnya

Cara Pembuatan:

Umbi gadung dikupas dan dihaluskan bersama kemiri. Kemudian dicampurkan secara merata dengan dedak padi, tepung ikan, dan air hingga menjadi adonan. Adonan tersebut kemudian  dibuat pelet kering.

Cara Aplikasi:

Pelet tersebut disebarkan di pamatang sawah, di sarang atau di lubang-lubang tikus.

Catatan: resep di atas jika bahan gadung diganti dengan gadung racun maka dapat digunakan  untuk membunuh tikus.


2.       wereng batang coklat, penggerek batang, dan nematode

Bahan dan alat:

• Air 1 liter
• Alcohol 70% 1 cc
• Biji nimbi 50 gr
• Penumbuk/penghalus
• Baskom/ember
• Sprayer

Cara membuat:

1. Biji nimba ditumbuk halus dan diaduk dengan alcohol
2. Encerkan dengan 1 liter air
3. Larutkan diendapkan semalam lalu disaring
4. Larutan siap diaplikasikan ke tanaman
5. Serangga akan mati setelah 2 – 3 hari

3.      wereng batang coklat

Bahan:

1. 50 lembar daun sirsak
2. Satu gemgam (100 gr) rimpang jaringau
3. Satu suing bawang putih
4. Sabun colek 20 gr

Cara membuat:

1. Daun sirsak, jaringau, dan bawang putih di haluskan
2. Seluruh bahan dicampur dan direndam dengan air selama 2 hari
3. Larutan disaring
4. Untuk aplikasi 1 liter larutan dicampur dengan 10 – 15 liter air
5. Larutan siap diaplikasikan


4.      Belalang dan ulat

Bahan:

1. 50 lembar daun sirsak
2. 5 lembar daun tembakau atau satu genggam tembakau
3. 20 liter air
4. 20 gr sabun colek/detergen

Cara membuat:

1. Daun sirsak dan daun tembakau ditumbuk halus
2. Bahan dicampur dengan air dan diaduk hingga rata
3. Bahan didiamkan selama satumalam
4. Larutan disaring kemudian diencerkan (ditambah dengan 50 – 60 air)
5. Larutan siap digunakan



5.      Hama/Penyakit Secara Umum

Bahan:
1. 8 kg daun nimba
2. 6 kg lengkuas
3. 6 kg serai
4. 20 gr sabun colek /detergen
5. 20 liter air

Cara membuat:

1. Daun nimbi,lengkuas dan serai dihaluskan
2. Bahan yang telah halus dilarutkan dalam 20 liter air
3. Didiamkan selama satu malam
4. Larutan disaring dan diencerkan dengan 60 liter air
5. Larutan siap diaplikasikan untuk 1 ha lahan


6.      Wereng Hijau, Wereng Batang Coklat

Bahan:

1. 1 kg gadung
2. 1 ons tembakau
3. Air secukupnya

Cara membuat:

1. Gadung dikupas, dicuci dan diparut.
2. Hasil parutan ditamban dengan 3 gelas air dan dibiarkan selama 12 sampai 24 jam
3. Tembakau direndam dalam 2 gelas air dan dibiarkan selama 12 sampai 24 jam
4. Kedua bahan dicampur dan diaduk hingga tercampur merata
5. Bahan disaring
6. Ekstrak Gatem diencerkan dengan dosis 2 – 2.5 gelas untuk 1 tangki sprayer.

READ MORE - PESTISIDA NABATI BPP TIRIS

MATERI MANGGIS BPP TIRIS


PEMBIBITAN MANGGIS

Oleh :
ANANG BUDI PRASETYO,SP
PPL BPP KECAMATAN TIRIS.


 



Pohon manggis dapat diperbanyak dengan biji/bibit hasil penyambungan pucuk dan susuan. Pohon yang ditanam dari biji baru berbunga pada umur 10-15 tahun
sedangkan yang ditanam dari bibit hasil sambungan dapat berbunga pada umur   5-7 tahun.

1)    Persyaratan Benih

a) Perbanyakan dengan biji untuk batang bawah
Biji yang akan dijadikan benih diambil dari buah tua yang berisi 5-6 segmen daging buah dengan 1-2 segmen yang berbiji, tidak rusak, beratnya minimal satu gram dan daya kecambah sedikitnya 75%. Buah diambil dari pohon yang berumur sedikitnya 10 tahun.
b) Untuk pembuatan bibit dengan cara sambungan diperlukan batang  bawah dan pucuk (entres) yang sehat. Batang bawah adalah bibit dari biji berumur lebih dari dua tahun dengan diameter batang 0.5 cm dan kulitnya berwarna hijau kecoklatan.
2) Penyiapan Benih

a) Perbanyakan dengan biji untuk batang bawah Untuk menghilangkan daging buah, rendam buah dalam air bersih selama 1 minggu (dua hari sekali air diganti) sehingga lendir dan jamur terbuang. Biji akan mengelupas dengan sendirinya dan biji dicuci sampai bersih. Celupkan biji kedalam fungisida Benlate dengan konsentrasi 3 g/L selama 2-5 menit. Keringanginkan biji di tempat teduh selama beberapa hari sampai kadar airnya 12-14%.
b) Pucuk untuk sambungan berupa pucuk (satu buku) yang masih berdaun muda berasal dari pohon induk yang unggul dan sehat. Dua minggu sebelum penyambungan bagian bidang sayatan batang bawah dan pucuk diolesi zat pengatur tumbuh Adenin/Kinetin dengan konsentrasi 500 ppm untuk lebih memacu pertumbuhan.

3)Teknik Penyemaian Benih

a) Perbanyakan dengan biji dalam bedengan

Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 100-120 cm dengan jarak antar bedengan 60-100 cm. Tanah diolah sedalam 30 cm, kemudian campurkan pasir, tanah dan bahan organik halus (3:2:1) dengan merata. Persemaian diberi atap jerami/daun kelapa dengan ketinggian sisi Timur 150-175 cm dan sisi Barat 10-125 cm. Benih ditanam di dalam lubang tanam berukuran 10 x 10 cm dengan jarak tanam 3 x 3 cm dan jarak antar baris 5 cm pada kedalaman 0,5- 1,0 cm. Tutup benih dengan tanah dan selanjutnya bedengan ditutup dengan karung goni basah atau jerami setebal 3 cm. Persemaian disiram 1-2 kali sehari, diberi pupuk urea dan SP-36 masing-masing 2 g/tanaman setiap bulan. Setelah berumur 1 tahun, bibit dipindahkan ke dalam polybag ukuran 20 x 30 cm berisi campuran tanah dan kompos/pupuk kandang (1:1). Bibit ini dipelihara sampai berumur 2 tahun dan siap ditanam dilapangan/dijadikan batang bawah pada penyambungan.
b) Penyemaian dan pembibitan
Penyemaian dan pembibitan di dalam polybag berukuran 20 x 30 cm. Satu/dua benih disemai di dalam polybag 20 x 30 cm yang dasarnya dilubangi kecil-kecil pada kedalaman 0.5-1.0 cm. Media tanam berupa campuran tanah halus, kompos/pupuk kandang halus dan pasir (1:1:1). Simpan polybag di bedengan yang sisinya dilingkari papan/bilah bambu agar polybag tidak roboh. Persemaian disiram 1-2 hari sekali dan diberi urea dan SP-36 sebanyak 2-3 g/tanaman setiap bulan. Bibit ini dipelihara sampai berumur 2 tahun dan siap ditanam di lapangan atau dijadikan batang bawah pada penyambungan.

c) Perbanyakan dengan penyambungan pucuk
Adapun cara penyambungan pucuk adalah sebagai berikut:
1.  Potong bahan bawah setinggi 15-25 cm dari pangkal leher lalu buat celah di ujung batang sepanjang 3-5 cm.
2.  Runcingkan pangkal batang atas sepanjang 3-5 cm.
3.  Selipkan bagian runcing batang atas (pucuk) ke dalam celah batang bawah.
4.  Balut bidang pertautan batang bawah dan atas dengan tali rafia. Pembalutan dimulai dari atas, lalu ikat ujung balutan dengan kuat.
5.  utupi hasil sambungan dengan kantung plastik transparan dan simpan di tempat teduh. Setelah 2-3 minggu penutup dibuka dan bibit dibiarkan tumbuh selama 3-4 minggu. Balutan dapat dilepas setelah berumur 3 bulan yaitu pada saat bibit telah bertunas. Setelah berumur 6 bulan bibit siap dipindahtanamkan ke kebun.
6.  Selama penyambungan siram bibit secara rutin dan siangi gulma.

d) Perbanyakan dengan penyambungan susuan

Adapun cara penyambungan susuan adalah sebagai berikut:

1.  Pilih pohon induk yang produktif sebagai batang atas.
2.  iapkan batang bawah di dalam polibag dan letakan di atas tempat yang lebih tinggi daripada pohon induk.
3.  Pilih satu cabang (entres) dari pohon induk untuk bahan cabang atas.
Diameter cabang lebih kecil atau sama dengan batang bawah.
4.  Sayat batang bawah dengan kayunya kira-kira 1/3-1/2 diameter batang
sepanjang 5-8 cm.
5.  Sayat pula cabang entres dengan cara yang sama.
6.  Satukan bidang sayatan kedua batang dan balut dengan tali rafia.
7.  Biarkan bibit susuan selama 5 - 6 bulan.
8.  Pelihara pohon induk dan batang bawah di dalam polibag dengan intensif.
9.  Susuan berhasil jika tumbuh tunas muda pada pucuk batang atas (entres) dan ada pembengkakan (kalus) di tempat ikatan tali.
10.Bibit susuan yang baru dipotong segera disimpan di tempat teduh dengan penyinaran 30% selama 3-6 bulan sampai tumbuh tunas baru. Pada saat ini bibit siap dipindahtanamkan.









 
 
READ MORE - MATERI MANGGIS BPP TIRIS

MATERI BPP TIRIS


BAGAIMANA MENINGKATKAN KANDUNGAN BAHAN ORGANIK TANAH?
Oleh :
ANANG BUDI PRASETYO,SP
PPL BPP KECAMATAN TIRIS


Bahan organik tanah terdapat dalam berbagai bentuk: ada yang stabil (lambat lapuk), terikat kuat dengan liat, membentuk agregat tanah yang stabil, dan ada pula yang labil (cepat lapuk) yang strukturnya masih mirip dengan bahan asalnya seperti daun, cabang, akar yang telah mati dan sebagainya. Tanah tertutup hutan sekunder memperoleh masukan rata-rata 10  –12 ton ha-1 th-1 seresah dari daun dan cabang gugur, serta tambahan dari akar yang membusuk.  Untuk tanah-tanah pertanian, bahan organik minimal 8 ton ha-1 harus diberikan setiap tahunnya, untuk mempertahankan jumlah bahan organik yang diinginkan (misalnya, untuk mencapai kondisi bahan organik tanah sekitar 80% dari kondisi hutan alami dengan tekstur tanah yang sama).  

Upaya yang dapat dilakukan petani untuk mencapai kondisi tersebut misalnya:
a) Mempertahankan sisa panenan dalam petak lahan (misalnya padi dan jagung) atau mengembalikan sisa panenan (misalnya kacang tanah), tergantung dari tehnik pemanenannya.  Jumlah sisa panenan tanaman pangan yang dapat dikembalikan ke dalam tanah umumnya berkisar 2-5 ton ha-1. Walaupun jumlah ini tidak dapat memenuhi jumlah minimum kebutuhan bahan organik, namun masih tetap menguntungkan daripada tidak sama sekali.  Bila ubikayu yang ditanam, batang harus diangkut keluar petak untuk bibit di musim mendatang sehingga masukan bahan organik hanya berasal dari daun ubikayu yang gugur yaitu sekitar 1 ton ha-1 per tahunnya.
b) Pemberian pupuk kandang atau sisa dapur yang telah dikomposkan. Karena keterbatasan penyediaan pupuk kandang, pemberian pupuk kompos ini hanya terbatas pada pekarangan di sekitar rumah atau hanya untuk tanaman buah-buahan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, dan bukan untuk lahan pertanian yang letaknya jauh dari rumah.
c)  Pemberian pupuk hijau (Foto 8). Penanaman pupuk hijau hanya mungkin dilakukan untuk jangka pendek setelah panen tanaman pangan. Jika kebutuhan air tercukupi, pangkasan tajuk tanaman penutup tanah dari keluarga kacang-kacangan (LCC: legume cover crops) dapat memberikan masukan bahan organik sebanyak 2-3 ton ha-1 (umur 3 bulan), dan 3-6 ton ha-1 jika dibiarkan selama 6 bulan.  Namun cara ini kurang menguntungkan, karena mahalnya biji tanaman dan banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan.  Beberapa jenis yang cukup memberi harapan adalah:
·         Tanaman penutup tanah yang tidak memerlukan tenaga untuk menanam dan tidak memerlukan beaya pembelian biji, karena biji-bijinya dapat tumbuh dengan sendirinya di lapangan (misalnya Callopogonium atau kacang asu), dan yang tidak menjadi gulma bagi tanaman pangan. 
·         Tanaman penutup tanah yang bijinya dapat dimakan (Mucuna pruriens var. utilis atau koro benguk), tetapi masih menghasilkan banyak seresah.
d)  Memanfaatkan seresah (daun yang gugur) dari pepohonan yang ditanam di sekitar petak sebagai pagar pembatas, atau dari tanaman pagar dalam sistem budidaya pagar.  Pada budidaya pagar, masukan bahan organik selain dari seresah yang jatuh juga berasal dari hasil pangkasan cabang dan ranting.  Dengan sistem agroforestri sederhana ini masalah kesuburan tanah dapat diatasi namun masalah lain telah menanti (lihat bab selanjutya).  
READ MORE - MATERI BPP TIRIS

BPP Tiris 2012


9 CARA MENGENDALIKAN 
HAMA TIKUS SAWAH

Oleh :
ANANG BUDI PASETYO,SP
                                                        PPL BPP KECAMATAN TIRIS

                                   
Tikus sawah merupakan hama penting tanaman padi yang tiap tahun serangannya lebih dari 17 % dari total luas arel padi. Hal ini disebabkan karena pengendalian hama tikus oleh petani selalu terlambat karena mereka mengendalikan setelah terjadi serangan dan kurangnya monitoring oleh petani.
Pemahaman petani mengenai informasi aspek dinamika populasi tikus, yang menjadi dasar dalam pengendalian juga masih kurang. Kecenderungan petani masih kurang peduli dalam menyediakan sarana pengendalian tikus, organisasi pengendalian yang masih lemah, dan pelaksanaan pengendalian yang tidak berkelanjutan dapat mengakibatkan meningkatnya hama tikus sawah.  Tidak kalah penting adalah masih banyak petani yang mempunyai ”persepsi mistis”. Di lingkungan masyarakat Jawa, biasanya bila petani melihat tikus, tidak boleh menyebut tikus tetapi disebutnya ”den bagus”. Padahal, pada hakekatnya hal tersebut dapat menghambat dalam usaha pengendalian tikus itu sendiri.
Melihat kondisi di atas, maka perlu Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT). Strategi PHTT dilaksanakan berdasarkan pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus (berkelanjutan) dengan memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Disamping itu kegiatan pengendalian diprioritaskan pada waktu sebelum tanam (pengenalian dini), untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat pada stadium generataif padi; dan pelaksanaan pengenalian dilkukan olehpetani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dalam cakupan skala luas (hamparan). Tidak kalah penting adalah masih banyak petani yang mempunyai ”persepsi mistis”. Di lingkungan masyarakat Jawa, biasanya bila petani melihat tikus, tidak boleh menyebut tikus tetapi disebutnya ”den bagus”. Padahal, pada hakekatnya hal tersebut dapat menghambat dalam usaha pengendalian tikus itu sendiri.
terkoordinasi dalam cakupan skala luas (hamparan).

Setidaknya ada sembilan cara pengendalian hama tikus sawah:
1.      Tanam dan panen serempak. Dalam satu hamparan, diusahakan selisih waktu tanam dan panen tidak lebih dari 2 minggu. Hal tersebut untuk membatasi tersedianya pakan padi generatif, sehingga tidak terjadi perkembangbiakan tikus yang terus menerus.
2.      Sanitasi habitat. Dilakukan selama musim tanam padi, yaitu dengan cara membersihkan gulma dan semak-semak pada habitat utama tikus yang meliputi tanggul irigasi, jalan sawah, batas perkampungan, pematang, parit, saluran irigasi, dll. Juga dilakukan minimalisasi ukuran pematang (tinggi dan lebat pematang) kurang 30 cm agar tidak digunakan sebagai tempat bersarang.
3.      Gerakan bersama (gropyokan massal). Gerakan ini dilakukan serentak pada awal tanam melibatkan seluruh petani. Gunakan berbagai cara untuk menangkap/membunuh tikus seperti penggalian sarang, pemukulan, penjeratan, pengoboran malam, perburuan dengan anjing, dan sebagainya.
4.      Fumugasi/pengemposan. Fumigasi dapat efektif membunuh tikus dewasa beserta anak-anaknya di dalam sarang. Agar tikus mati, tutuplah lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar. Lakukan fumigasi selama masih dijumpai sarang tikus terutama pada stadium generatif padi.
5.      Trap Barrier System (TBS). TBS dengan tanaman perangkap diterapkan terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak. TBS berukuran 20 x 20 m dapat mengamankan tanaman padi dari serangan tikus seluas 15 ha.
6.      Linier Trap Barrier System (LTBS). LTBS berupa bentangan pagar plastik/terpal setinggi 60 cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 m, dilengkapi bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk tikus berselang-seling arah. LTBS dipasang di daerah perbatasan habitat tikus atau pada saat ada migrasi tikus. Pemasangan dipindahkan setelah tidak ada lagi tangkapan tikus atau sekurang-kurangnya di pasang selama 3 malam.
7.      Memanfaatan musuh alami. Cara termudah ini adalah dengan tidak mengganggu atau membunuh musuh alami tikus sawah, khususnya pemangsa, seperti burung hantu, burung elang, kucing, anjing, ular tikus, dan lain-lain. 
8.      Rodentisida, yang merupakan cara kedelapan ini, digunakan hanya apabila populasi tikus sangat tinggi terutama pada saat bera atau awal tanam. Penggunaan rodentisida harus sesuai dosis anjuran. Umpan ditempatkan di habitat utama tikus, seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang besar, atau tepi perkampungan.
9.      Cara pengendalian lokal lainnya dengan memanfaatkan cara pengendalian tikus yang biasa digunakan petani setempat, seperti penggenangan sarang tikus, penjaringan, pemerangkapan, bunyi-bunyian, dan cara-cara lainnya.

       Tikus yang telah terbunuh/tertangkap hanya merupakan indikasi turunnya populasi. Yang perlu diwaspadai adalah populasi tikus yang masih hidup, karena akan terus berkembang biak dengan pesat selama musim tanam padi.
       Disamping itu monitoring keberadaan dan aktivitas tikus sangat penting diketahui sejak dini agar usaha pengendalian dapat berhasil. Cara monitoring antara lain dengan melihat lubang aktif, jejak tikus, jalur jalan tikus, kotoran atau gejala kerusakan tanaman. Dan tidak kalah pentingnya adalah mewaspadai terhadap kemungkinan terjadinya migrasi (perpindahan tikus) secara tiba-tiba dari daerah lain dalam
jumlah yang besar.
__________________________________________________________________________________

READ MORE - BPP Tiris 2012