teks

SELAMAT DATANG DI BLOG BPP KECAMATAN TIRISblink>

Sabtu, 10 November 2012

GATRA TANAH PERTANIAN AKRAB LINGKUNGAN DALAM MENYONGSONG PERTANIAN MASA DEPAN



GATRA TANAH PERTANIAN AKRAB
LINGKUNGAN DALAM MENYONGSONG
PERTANIAN MASA DEPAN


PENDAHULUAN

Tantangan yang dihadapi kebanyakan negara berkembang dalam meningkatkan produksi pangan secara berkelanjutan untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk yang makin meningkat (UNCED, 1992). Hal  ini merupakan dilema, disatu pihak kita masih dituntut untuk mempertahankan swasembada pangan dengan menerapkan “prinsip pertanian konvensional” yang ketergantungannya terhadap masukan dari luar usahatani cukup tinggi (high external input), tetapi di pihak lain kita dituntut untuk mengembangkan “pertanian alternatif” yang akrab lingkungan. Seperti dikemukakan oleh Gever  et al,  (1991) bahwa tangtangan yang dihadapi pertanian abad 21 adalah pertanian yang berbasis energi matahari dan kegiatan biologi  untuk menggantikan pertanian berbasis petrokimia. Ketergantungan kita yang cukup tinggi terhadap masukan yang berasal dari sumberdaya tak terbarukan, seperti fosfat dan minyak tidak dapat lebih lama lagi.
Pembangunan di semua sektor termasuk pertanian tidak terlepas dari perkembangan ilmu dan teknologi (iptek). Sumberdaya alarn yang diekploitasi secara berlebihan menyebabkan dalam waktu relatif singkat sumberdaya tersebut akan hilang dan alam itu sendiri menjadi tidak bersahabat terhadap kehidupan manusia. Manusia di seluruh dunia mulai membicarakan masalah pembangunan berkelanjutan  atau pembangunan berwawasan lingkungan. Konsep pembangunan lebih menitik beratkan pada dua gatra utama: (1) pembangunan harus  bermitra  dengan  alam,  dan (2) pembangunan  bukan hanya  untuk kesejahteraan manusia masa kini tetapi juga untuk  generasi mendatang;  generasi yang akan datang perlu diberikan warisan sumberdaya alam yang cukup untuk menunjang kesejahteraan mereka. 

KONSEP PERTANIAN BERKELANJUTAN

Ada beberapa takrif (definition) yang berkembang pada saat ini tentang “Pertanian berkelanjutan”. Menurut World Conservation Strategy 1980 pembangunan berkelanjutan ditakrifkan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengorbankan kesanggupan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka” (Anon., 1990). Menurut TAC/CGIAR (1988),
Pertanian Berkelanjutan adalah keberhasilan dalam mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumberdaya alam. Pertanian berwawasan lingkungan selalu memperhatikan nasabah tanah, air, manusia, hewan/ternak, makanan, pendapatan dan kesehatan. Sedang tujuan pertanian yang berwawasan lingkungan adalah mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah; meningkatkan dan mempertahankan basil pada aras yang optimal; mempertahankan dan meningkatkan keanekaragaman hayati dan ekosistem; dan yang lebih penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan penduduk dan makhluk hidup lainnya.
Menurut Gips (1986), sistem pertanian berkelanjutan harus dievaluasi berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria, antara lain: 
1.  Aman menurut wawasan lingkungan, berarti kualitas sumberdaya alam dan vitalitas keseluruhan agroekosistem dipertahankan/mulai dari kehidupan manusia, tanaman dan hewan sampai organisme tanah dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai apabila tanah terkelola dengan baik, kesehatan tanah dan tanaman ditingkatkan, demikian juga kehidupan manusia maupun hewan ditingkatkan melalui proses biologi. Sumberdaya lokal dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga dapat menekan kemungkinan terjadinya kehilangan hara, biomassa dan energi, dan menghindarkan terjadinya polusi. Menitikberatkan pada pemanfaatan sumberdaya terbarukan. 
2.  Menguntungkan secara ekonomi,berarti petani dapat menghasilkan sesuatu yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri/pendapatan, dan cukup memperoleh pendapatan untuk membayar buruh dan biaya produksi lainnya. Keuntungan menurut ukuran ekonomi tidak hanya diukur langsung berdasarkan basil usahataninya, tetapi juga berdasarkan fungsi kelestarian sumberdaya dan menekan kemungkinan resiko yang terjadi terhadap lingkungan.
3. Adil menurut pertimbangan sosial, berarti sumberdaya dan tenaga tersebar sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi, demikian juga setiap petani mempunyai kesempatan yang sama dalam memanfaatkan lahan, memperoleh modal cukup, bantuan teknik dan memasarkan hasil. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama berpartisipasi dalam menentukan kebijkan, baik di lapangan maupun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.
4. Manusiasi terhadap semua bentuk kehidupan,  berarti tanggap terhadap semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan dan manusia) prinsip dasar semua bentuk kehidupan adalah saling mengenal dan hubungan kerja sama antar makhluk hidup adalah kebenaran, kejujuran, percaya diri, kerja sama dan saling membantu. Integritas budaya dan agama dari suatu masyarakat perlu dipertahankan dan dilestarikan.
5.  Dapat dengan mudah diadaptasi, berarti masyarakat pedesaan/petani mampu dalam menyesuaikan dengan perubahan kondisi usahatani: pertambahan penduduk, kebijakan dan permintaan pasar. Hal ini tidak hanya berhubungan dengan masalah perkembangan teknologi yang sepadan,tetapi termasuk juga inovasi sosial dan budaya

Konservasi merupakan faktor yang penting dalam pertanian berwawasan lingkungan. Konservasi sumberdaya terbarukan berarti sumberdaya tersebut harus dapat difungsikan secara malar (continous). Sekarang kita sudah mulai sadar tentang potensi teknologi, kerapuhan lingkungan, dan kemampuan budi daya manusia untuk merusak lingkungan tersebut. Suatu hal yang perlu dicatat bahwa ketersediaan sumberdaya adalah terbatas..
Petani lebih tertarik pada pendapatan yang tinggi dari hasil usahataninya; pemerintah kemungkinan memberikan prioritas pada kecukupan pangan dengan harga yang terjangkau penduduk pedesaan. Pemilihan prioritas pengembangan harus dilakukan secara terus menerus untuk meniadakan perbedaan pandangan dan kepentingan. Dengan demikian, diperlukan kelembagaan yang dapat berfungsi baik dalam menyusun dan menghasilkan kebijakan yang baik dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan, baik dari tingkat desa sampai global. 

Pembangunan pertanian pada umumnya dan khususnya pertanian pangan banyak menghadapi kendala berupa: 
(a)     Ketersediaan lahan potensial untuk pertanian terutama di luar P. Jawa semakin terbatas karena sudah semakin banyak yan telah dibuka dan dimanfaatkan untuk pertanian maupun kepentingan yang lain;
(b)     Untuk membuka dan mengembangkan lahan yang berpotensi lebih rendah (marginal) dan padat masalah diperlukan biaya yang lebih tinggi yang tentu saja akan membebani lebih berat anggaran belanja negara, disamping akan memberikan tekanan lebih berat pada sumberdaya alam dan lingkungan;  
(c)     Persaingan kepentingan dengan sektor lain terus berlangsung dan menunjukkan kecenderungan meningkat, prospek pertanian pada umumnya dan prospek petani pada khususnya sangatlah suram;
(d)  Pengalihan fungsi lahan pertanian subur ke lahan bukan pertanian meningkat secara dramatis terutama di Jawa, untuk pengembangan kota, pemukiman, kawasan pariwisata, fasilitas umum, jaringan jalan dan jaringan irigasi; Keppres Nomor 33 tahun 1990 ternyata kurang berperanan dalam mencegah pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi lahan bukan pertanian;
(e)     Luas garapan terlalu sempit. Walaupun jumlah pendapatannya tinggi, tetapi tidak mencukupi untuk hidup layak petani dan keluarganya, apalagi untuk meningkatkan masukan atau mengadakan investasi dalam usahataninya;
(f)      Teknologi konservasi sumberdaya tanah tidak dapat diterapkan secara baik, seperti telah dilaporkan oleh Fujisaka (1991), disebabkan karena luas pemilikan lahan terlalu sempit, tekanan penduduk yang besar, kondisi biofisik lahan tidak seragam, biaya investasi konservasi yang mahal;
(g)  Dilema irigasi konvensional sebagai andalan pengembangan lahan pertanian tanaman pangan dan lahan produksi banyak yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, disamping sudah yang jauh berkurang karena ditempati industri, permukiman dan infrastruktur lainnya;
(h)  Kerusakan lahan pertanian makin meningkat, terjadi baik akibat erosi, pemakaian pupuk kimia dan obat kimia secara berlebihan, tidak ada pendauran ulang limbah pertanian;
(i)      Terjadi penyempitan pemilikan lahan akibat luas lahan terbatas, penduduk terus bertambah, di lain pihak sektor pertanian harus menyediakan lapangan kerja terbesar;
(j)  Istilah swasembada pangan yang diartikan terlalu harfiah, sehingga membatasi peluang dan kesempatan petani dalam memilih komoditas yang lebih menguntungkan; kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan undang-undang budidaya tanaman No 12 tahun 1992.
(k)  Teknologi produksi yang dipaketkan dari atas menghambat penerapan konsep rasionalisasi pembangunan pertanian yang antara lain berisi wawasan pewilayahan agroekosistem dan LEISA (low external sustainable agriculture);
(l)      Pembangunan industri pada umumnya tidak mendukung pembangunan pertanian, bahkan justru sering menyaingi pembangunan pertanian.

Kalau diperhatikan lebih mendalam bahwa keberhasilan pembangunan pertanian, terutama sektor tanaman pangan lebih banyak terjadi di lahan bawahan (sawah) yang terpusat di Jawa dan infrastruktur mendukung.
Keberhasilan ini tercapai melalui: 
(a)     penggunaan bibit unggul secara meluas, 
(b)     penggunaan pupuk kimia terutama N dengan dosis tinggi secara meluas, dan pemberantasan hama penyakit dengan obat kimia, 
(c)  pembangunan fasilitas irigasi secara besar-besaran, perluasan lahan sawah, perluasan intensifikasi padi sawah secara monokultur, 
(d)     mengatur produksi secara sentral dengan paket teknologi masukan tinggi, 
(e)     pemberian subsidi kepada sarana produksi dan kredit usahatani dalam jumlah besar, 
(f)      penyediaan anggaran penelitian, pengembangan dan pembangunanlahan sawah yang cukup besar.

Pembangunan pertanian dinilai telah berhasil meningkatkan produksi pangan, tetapi di pihak lain telah terjadi kemenosotan sumberdaya alam, degradasi lingkungan dan kemunduran rasa solidaritas masyarakat pedesaan. Dampak negatif pembangunan pertanian telah mendorong kita untuk lebih memperhatikan usaha-usaha mennyelamatkan sumberdaya dari kerusakan yang lebih jauh.

PENERAPAN DAN PILIHAN TEKNOLOGI

  1. Teknologi Produksi Pertanian

 Meningkatnya keperdulian masyarakat dunia akan kelestanian lingkungan, terutama oleh negara-negara maju yang semula teknologi produksinya dicirikan oleh budidaya yang mengandalkan masukan teknologi benenengi tinggi, ternyata beberapa tahun terakhir telah berupaya merakit dan mengembangkan budidaya pertanian yang menggunakan pendekatan  agroekosistem. Secara ringkas agroekosistem ialah ekosistem yang diubah sebagian oleh orang untuk menghasilkan pangan, serat dan hasil pertanian lainnya (Ghildyal, 1984). Upaya peningkatan produktivitas akhirnya akan dihadapkan kepada masalah membatasi kerusakan lingkungan dan sumberdaya.

Produksi tanaman pangan telah meningkat secara dramatis, setelah diketemukannya varietas unggul yang berproduksi tinggi. Akan tetapi, varietas unggul tersebut sangat bergantung pada masukan berenengi tinggi (high external input), dalam bentuk pupuk kimia dan pestisida sintetis untuk memberantas hama dan penyakit serta gulma, varietas unggul, mekanisasi pertanian menggunakan energi fosil dan pengembangan irigasi. Masalah tersebut timbul, karena dikembangkannya sistem pertanaman tunggal. Penggunaan pupuk dan pestisida diramalkan akan tetap mengalami kenaikan secara eksponensial (Edwards, 1987), kecuali ada perubahan filosofi tentang produksi tanaman, yang memperhatikan keadaan petani kecil dan penyelamatan hngkungan.

Suatu konsensus telah dikembangkan untuk mengantisipasi pertanian berkelanjutan. Sistem produksi yang dikembangkan berasaskan  LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) yang kalau diterjemahkan sebagai ( Pertanian Berkelanjutan/Lestari, Masukan Dari Luar Usahatani Rendah ). Konsep ini dapat dijabarkan menjadi beberapa rakitan operasional, antara lain: meningkatkan produktivitas, melaksanakan konservasi energi dan sumberdaya alam,mencegah terjadinya erosi dan membatasi kehilangan unsur hara, meningkatkan keuntungan usahatani, memantapkan dan ketenlanjutan konservasi serta sistem produksi pertanian.

Berdasarkan takrif sistem pertanian masukan teknologi rendah, maka ada dua tujuan yang akan dicapai, yaitu:
1.      Berusaha mengoptimalkan pengelolaan dan penggunaan input produksi dari dalam usaha tani (on-farm resources), sehingga diperoleh hasil pertanian dan peternakan yang memadai dan secara ekonomi menguntungkan. Pendekatan ini menitikberatkan pada pengelolaan tanaman, seperti pergiliran tanaman, pendauran ulang limbah pertanian, memanfaatkan pupuk kandang atau kotoran ternak, pengolaan tanah yang berasaskan konservasi untuk mencegah erosi dan kehilangan unsur hara, dan mempertahankan serta meningkatkan produktivitas tanah.
2.      Membatasi ketergantungan pertanian pada masukan yang berasal dan  luar usahatani (off-farm resources), seperti pupuk pabrik dan pestisida, sedapat mungkin dilaksanakan penurunan biaya produksi, menghindarkan polusi terhadap air permukaan dan air tanah, membatasi residu pestisida dalam makanan, membatasi semua resiko yang dihadapi petani, dan meningkatkan keuntungan usahatani untuk jangka pendek dan jangka panjang.

Sistem pertanian ini tetap memanfaatkan teknologi modern, seperti benih hibrida berlabel, melaksanakan konservasi tanah dan air, pengelolaan tanah yang berasaskan konservasi. Membatasi penggunaan dan keperluan yang berasal dari luar usahatani seperti pupuk pabrik dan pestisida, dengan mengembangkan pergiliran tanaman, mengembangkan pengelolaan tanaman dan ternak secara terpadu, mendaur ulang limbah pertanian dan pupuk kandang untuk mempertahankan produktivitas tanah.
Meskipun sistem pertanian masukan rendah dengan segala aspeknya jelas memberikan keuntungan banyak kepada pembangunan pertanian rakyat dan penjagaan lingkungan, termasuk konservasi sumberdaya  lahan, namun penerapannya tidak mudah dan akan menghadapi banyak kendala. Faktor-faktor kebijakan pemenintah dan sosio-politik sangat menentukan arah pengembangan sistem pertanian sebagai unsur pengembangan ekonomi.

  1. Pengelolaan Kesehatan Tanah

Tanah yang sehat merupakan kondisi yang diharapkan untuk memperoleh tanaman yang sehat. Kesehatan tanaman dipengaruhi secara langsung penyerapan senyawa organik tertentu yang dihasilkan apabila organisme tanah mendekomposisi bahan organik.
Kesehatan tanaman secara tidak langsung terpengaruh apabila salah satu mikroorganisme menekan perkembangan mikroorganisme yang lain sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Apabila tanaman tumbuh, maka terjadi ketidakseimbangan kondisi ekologi karena keanekaragaman alamiah dari ekosistem menurun. Prinsip ekologi dasar adalah mencoba untuk memperbaiki keseimbangan alamiah yang ada. Pada umumnya penyakit tanaman yang berasal dari tanah akan menurun apabila ditambahkan bahan organik, karena pertumbuhan organisme penyebab penyakit dihambat oleh mikroorganisme lain atau karena terjadi peningkatan jumlah antagonisme. Makin banyak jumlah dan variasi mikroorganisme tanah makin baik penanggulangan patogen secara biologi.
Keseimbangan pemupukan merupakan dasar kesehatan tanaman. Terlalu banyak atau terlalu sedikit hara tanaman akan membuat tanaman mudah terserang penyakit atau hama. Terlalu banyak pemupukan nitrogen, pertumbuhan vegetatif tanaman berlebihan, tetapi tanaman peka terhadap penyakit. Bahaya ini berkurang apabila pemupukan organik dilakukan, karena bahan organik secara perlahan melepas hara.
Pengelolaan bahan organik, pengolahan tanah dan pengelolaan kesehatan tanah kemungkinan tidak cukup untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan pertumbuhan tanaman, karena curah hujan terlalu tinggi atau terlalu rendah; air tanah
terlalu dangkal; kelerengan tanah yang curam; atau tanah bersifat impermeabel, kahat salah satu unsur, terlalu masam. Maka diperlukan usaha perbaikan pengatusan, pemanenan air dan pembuatan teras, dan pemupukan. Petani tidak selalu mempunyai
modal atau waktu untuk melakukan investasi. Pemilihan jenis tanaman dan ternak harus menyesuaikan dengan kondisi agroekosistem setempat.

  1. Membatasi kehilangan hara
Kehilangan hara dan dalam tanah dapat dibatasi melalui:
(a)  mendaur ulang limbah organik, dalam bentuk: pupuk kandang, pupuk asti (asal tinja), limbah pertanaman, limbah pengolahan hasil pertanian, limbah rumah tangga, dengan cara mengembalikan di lahan pertanian secara langsung atau melalui perlakuan
(proses pengomposan, fermentasi dll);
(b)  menangani pupuk organik dan buatan sedemikian rupa sehingga unsur hara tidak banyak yang hilang karena hujan yang berlebihan atau volatilisasi karena temperatur dan radiasi matahari yang tinggi;
(c)  mengurangi terjadinya aliran permukaan (run off) dan erosi, yang mampu menghilangkan hara tanaman dalam jumlah yang cukup besar;
(d)  mengurangi pembakaran vegetasi (tebas-bakar/slash and burn) apabila sistem usaha tani dilakukan secara intensif, karena melalui pembakaran akan menghilangkan kandungan bahan organik tanah banyak sekali;
(e)  mengurangi terjadinya volatilisasi nitrogen melalui proses denitrifikasi di lahan sawah;
(f)  menghindarkan terjadinya pelindian dengan menggunakan bahan organik dan pupuk buatan yang mampu melepaskan hara secara perlahan, mempertahankan kandungan humus tetap tinggi, pertanaman campuran/ganda dengan komposisi tanaman yang mempunyai kedalaman sistem perakaran berbeda;
(g)  membatasi kehilangan hara bersama hasil panen dengan cara menanam tanaman yang mempunyai nilai ekonomi tinggi nisbi terhadap kandungan hara, misalkan, buah-
buahan, leguminose, rumput dan susu;
(h)  menghasilkan produksi swasembada, sehingga beberapa jenis produksi dapat diekspor, dan limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai makanan ternak atau pupuk organik.
Kehilangan hara dari lahan pertanian ke pasar tidak dapat dihindarkan, karena petani memerlukan biaya untuk membayar pajak, kebutuhan rumah tangga sehari-hari, dll. Demikian juga tidak mungkin menghindarkan sama sekali kehilangan hara akibat erosi dan peiindian.

  1. Penanggulangan erosi
Seperti telah disampaikan oleh Fujisaka (1991) dan Sutanto, (1992) bahwa terdapat 13 alasan utama mengapa petani lahan kering tidak mengadopsi inovasi teknologi. Alasan tersebut adalah: 
(1)  petani tidak menghadapi masalah dengan lahannya, 
(2)  inovasi teknologi tidak sepadan dengan kondisi petani, 
(3)  petani tidak mengenal erosi, 
(4)  fasilitas inovasi tidak dapat berfungsi sepenuhnya, 
(5)  identifikasi proyek yang dilakukan tidak tepat, 
(6)  tidak sepadan dengan kebiasaan petani, 
(7)  tidak berpengaruh langsung pada lahan milik petani tetapi berpengaruh di tempat lain, 
(8)  variasi kondisi lokasi menyulitkan dalam inovasi, 
(9)  memerlukan modal biaya tinggi, 
(10)  tidak pernah dilakukan penyuluhan yang tepat, 
(11)  lahan garapan bukan hak milik, 
(12)  konotasi sosial yang bersifat negatif, 
(13)  pelaksanaan inovasi tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Beberapa usaha melalui sistem pertanian terpadu dilaksanakan di beberapa tempat yang dinilai kritis, seperti di DAS Jratunseluna, DAS Brantas dan DAS Citanduy. Penanggulangan erosi bukan merupakan tujuan tetapi sebagai bagian dari usaha yang bersifat holistik untuk memperbaiki produktivitas lahan dan konservasi sumbendaya alam, dan petani diberi kesempatan berpartisipasi dalam menyusun perencanaan pada tingkat lokal, pengembangan teknologi dan pengelolaan sumberdaya alam.

PEMANFAATAN SUMBER GENETIKA YANG SALING MENDUKUNG DAN BERSIFAT SINERGISME

Pertanaman maupun peternakan campunan bukan hanya sekedar mengumpulkan sumber genetika secara acak. Setiap spesies harus sesuai dengan kondisi Iingkungan biofisik dan sosial ekonomi petani, dan harus menunjukkan kondisi produktif, reproduktif, protektif atau fungsi sosial, atau kombinasi dari masing-masing kondisi tersebut.
Kesesuaian lahan, permintaan pasar, ketersediaan sumberdaya (lahan, tenaga kerja, pengetahuan, sumber genetika) dan masukan (pupuk, pestisida, obat-obatan, air) sangat diperlukan petani untuk lebih berkonsentrasi pada tanaman dan ternak ertentu. Menciptakan kesempatan pemasaran untuk salah satu hasil dan sekian banyak jenis tanaman dan ternak, memberikan petani kesempatan meraih keuntungan dari sistem pertanaman campuran yang dikembangkan.

  1. Memanfaatkan interaksi tanaman

Tanaman berinteraksi satu dengan yang lain berdasarkan ruang dan waktu (horisontal dan vertikal). Selama proses pertumbuhan tanaman memerlukan energi, air dan hara dari lingkungan, tetapi yang diperlukan tergantung pada tahapan pertumbuhan. Selama pertumbuhan, faktor iklim berubah menurut musim, dan tanaman itu sendiri mempengaruhi kondisi iklim mikro (kelembaban, temperatur tanah dan udara, naungan) dan makin besar tanaman maka jumlah air dan hara yang diperlukan makin meningkat. Dalam sistem pertanaman campuran yang memegang peranan penting adalah pemilihan jenis tanaman yang memiliki pertumbuhan optimal berdasarkan ruang dan waktu.
Teknik yang berhubungan dengan dimensi keruangan dapat digunakan dalam memilih tanaman berdasarkan perbedaan kerapatan tanaman, pola pertanaman dan pengaturan keruangan. Teknik yang berhubungan dengan dimensi waktu berhubungan dengan waktu tanam,rotasi/pergiliran tanaman dan pemupukan.
Setiap waktu perlu dilakukan perubahan kombinasi jenis tanaman untuk lebih meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya seperti hara tanaman, air dan tenaga kerja, mempertahankan kesuburan tanah (pemberoan tanah) atau menurunkan populasi hama dan penyakit. Teknik yang dapat dikembangkan adalah tumpang gilir, tumpang sari, pertanaman ganda dll.

  1. Memelihara diversifikasi dan fleksibilitas

Sistem pertanian yang berkelanjutan tergantung pada fleksibilitas karena pengaruh kondisi lingkungan. Makin besar ketersediaan sumber genetika, makin fleksibel sistem yang dikembangkan.
Petani dapat memilih diversifikasi yang akan dilaksanakan dengan menggunakan campuran jenis, campuran varietas dan jenis yang sama, atau varietas yang mempunyai komposisi genetika berbeda.

  1. Pertanaman campuran

Apabila dua atau lebih tanaman ditanam pada petak yang sama, baik pada waktu bersamaan atau segera setelah salah satu tanaman dipanen disebut “pertanaman ganda”. Tanaman yang digunakan baik tanaman tahunan maupun tanaman semusim,
tetapi para pakar pertanian telah mengembangkan sistem pertanaman ganda yang memanfaatkan kombinasi tanaman keras/tahunan (pohon, semak, rerumputan) dengan tanaman semusim. Kombinasi tanaman pohon dikenal sebagai hutan tani (agroforestry), agrosilvopasture dll.
Pada awalnya pertanian merupakan sistem campuran (Francis, 1986). Kemudian setelah teknologi berkembang: penggunaan pupuk kimia, pestisida, benih hibrida, maka sistem produksi lebih diarahkan pada fungsi reproduksi dan protektif. Masukan dari luar usahatani terhadap sistem pertanaman yang relatif seragam dengan keanekaragaman yang rendah baik spesies dan varietas. Salah satu tekno1ogi tradisionil yang cukup banyak dikembangkan adalah budidaya lorong/pertanaman lorong untuk lahan kering yang miring yang disebut juga sebagai SALT (Sloping Agricultural Land Technology). Teknologi tradisionil ini berusaha memadukan konservasi tanah dan air, meningkatkan kesuburan tanah, diversifikasi tanaman dan produktivitas lahan. Sistem pertanaman lorong sebagai salah satu sistem wanatani yang memadukan praktek pengelolaan hutan secara tradisionil dan proses daur hara secara alamiah ke dalam sistem usahatani yang lebih intensif, produktif dan berkelanjutan (Sutanto, 1996). 
Budidaya lorong bersifat multiguna, sehingga dapat ditinjau dari beberapa gatra, antara lain: 
(1)  mencegah terjadinya kerusakan tanah akibat erosi permukaan (gatra konservasi), 
(2)     melestarikan dan meningkatkan kesuburan tanah (gatra kesuburan tanah), 
(3)     anaman pagar terutama jenis legum dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hijau, makanan ternak, sayuran dan penyediaan kayu bakar (gatra multiguna tanaman pagar), 
(4)     tanaman pagar dapat berfungsi sebagai pematah angin sehingga tanaman pokok terlindung dan kerusakan akibat angin, 
(5)     produktivitas lahan dapat ditingkatkan.

  1. Pertanian dan peternakan secara terpadu

Ternak mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan pendapatan petani kecil. Hasil yang dapat dimanfaatkan adalah daging, susu, telur dll. Disamping itu mempunyai peranan penting hubungannya dengan budaya setempat. Program usahatani konservasi yang banyak dilaksanakan terutama di DAS kritis lebih banyak memanfaatkan keterpaduan program peternakan dan pertanian.

  1. Pertanian dan perikanan secara terpadu

Di wilayah bawahan yang cukup air usaha pertanian dapat dikembangkan bersama-sama dengan usaha perikanan. Cukup banyak sistem tradisionil yang telah berkembang terutama di Jawa Barat yang memadukan antara pertanian dan peternakan.Mina padi merupakan usaha perikanan di lahan sawah.
Kolam ikan di pekarangan dapat dikembangkan dengan memanfaatkan daur pendek rumah tangga dan kolam. Demikian juga daur pendek ini dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sampah pekarangan untuk makanan ikan dan pertanaman di pekarangan dapat disirami dengan air yang berasal dan kolam. Pada waktu-waktu tertentu lumpur kolam dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah di sekitar pekarangan.

  1. Mengembangkan tanaman dan ternak jenis lokal

Untuk mengembangkan keanekaragaman hayati maka jenis-jenis lokal baik tanaman maupun ternak perlu diinventarisasi. Sebetulnya cukup banyak jenis-jenis lokal yang unggul karena sudah memiliki seleksi alam sehingga mempunyai daya adaptasi yang tinggi dengan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

a.         Anonim. 1990. Scientific information for sustainable development. SCOPE Newsletter (33):4-5
b.         Biro Pusat Statistik. 1982. Statistik Indonesia. Statistik tahunan. BPS. Jakarta
c.         Edwards, C.A. 1990. The importance of integration in sustainable agriculture systems. Dalam: C.A. Edwards, R.Lal, P. Madden, R.H. Miller, and G. House (Eds.). Sustainable Agricultural Systems. Soil and Water Conservation Society. h.249-264.
d.         Francis, C.A. 1986. Multiple cropping systems. Macmillan New York. 383 hal.
e.         Fujisaka, S. 1991. Thirteen reasons why farmers do not adopt innovations intended to improve the sustainability of upland agriculture.  Dalam:  J. Dumanski, E. Puspharajah, M. Latham,R. Myers (Eds.): Evaluation for Sustainable Land Management in the Developing World. IBSRAM Proc. No.12 (II): hal. 509-521.
f.          Fukuoka, M. 1985. The one-straw revolution. Bamtam Books. Toronto. xxviii+ 155h.
g.         Gever, J., R. Kaufmann, D. Skoie, and C. Vorosmarty. 1991. Beyond oil: The threat to food and fuel in the coming decades. 3rd ed. Univ. Press of Colorado, Niwot.
h.        Ghildyal, B.P. 1984. Rethinking soil physics research. Jour. Indian Soc. Soil Sci.
32:556-574.
i.          Gips, T. 1986. What is sustainable agriculture?.  Dalam:  Allen P. and D. Dusen (Eds.), Global prespectives on agroecology and sustainable agriculture systems: Proc. of the 6th Int. Scientific Conference of the International Federation of Organic agriculture Movement (Santa Cruz: Agroecology Program, Univ. of California) vol 1: hal 63-74.
j.          Harwood, R.R. 1990. A history of sustainable agriculture.  Dalam: C.A.Edwards, R. Lal, P. Madden, R.H. Miller, and G. House (Eds.) Sustainable Agricultural Systems. Soil and Water Conservation Society. h.3-19.
k.         Lal, R., and B.A. Stewart. 1990. Soil degradation. Springer- New York. 345 hal.
l.          Lynam, J.K. and R.W. Herdt. 1988. Sense and Sustainability: sustainability as an objective in international agricultural research. Paper, CIP-Rockefeller conference Farmers and Food Systems, Lima, Peru, 26-30 Sept. 1988.
m.       Notohadiprawiro, T. 1987. Ekoteknologi, suatu pilihan arif untuk pembangunan pertanian Indonesia. Seminar mingguan, Fakultas Pertanian UGM.
n.        ________. 1988. Upaya memenuhi kecukupan pangan suatu pengalaman di Indonesia. Kuliah umum di Institut Pertanian Yogyakarta. 12 November 1988.
o.         Plucknett, D.L. 1990. International goals and the role of the international agricultural research centers. Dalam: C.A. Edwards, R. Lal, P. Madden, R.H. Miller, and G. House (Eds.) Sustainable Agricultural Systems. Soil and Water Conservation Society. h.33-49
p.         Reijntjes C, B. Haverkort, A.W. Bayer. 1992. Farming for the future. Introduction to low-external-input and Sustainable agriculture. Macmillan-ILEIA, Netherlands.
q.         Rodale, R. 1983. Breaking new ground: The search for a sustainable agriculture. The Futurist 1(1): 15-20.
r.          Sutanto, R. 1992. Pengembangan lahan kering berwawasan konservasi di wilayah permukiman Waduk Kedungombo. Mimeograph Konsultan P.T. lndah Karya kepada Proyek Jratunseluna.

READ MORE - GATRA TANAH PERTANIAN AKRAB LINGKUNGAN DALAM MENYONGSONG PERTANIAN MASA DEPAN

CARA MENANAM MANGGIS



CARA MENANAM MANGGIS

1) Pembuatan Lubang Tanam
Buat lubang tanam ukuran 50 x 50 cm sedalam 25 cm dan tempatkan tanah galian tanah di satu sisi. Perdalam lubang tanam sampai 50 cm dan tempatkan tanah galian di sisi lain. Keringanginkan lubang tanam 15-30 hari sebelum tanam. Kemudian masukkan tanah bagian dalam (galian ke dua) dan masukkan kembali lapisan tanah atas yang telah dicampur 20-30 kg pupuk kandang. Jarak antar lubang 8 x 10 m atau 10 x 10 m dihitung dari titik tengah lubang. Untuk lahan berlereng perlu dibuat teras, tanggul dan saluran drainase untuk mencegah erosi.

2) Cara Penanaman

Dengan jarak tanam 10x 10 m atau 8 x 10 m diperlukan 100-125 bibit per hektar. Cara menanam bibit yang benar adalah sebagai berikut:
a) Siram bibit di dalam polybag dengan air sampai polibag dapat dilepaskan dengan mudah.
b) Buang sebagian akar yang terlalu panjang dengan pisau/gunting tajam.
c) Masukkan bibit ke tengah-tengah lubang tanam, timbun dengan tanah sampai batas akar dan padatkan tanah perlahan-lahan.
d) Siram sampai tanah cukup lembab.
e) Beri naungan yang terbuat dari tiang-tiang bambu beratap jerami. Jika sudah ada pepohonan di sekitarnya, pohon-pohon ini bisa berfungsi sebagai pelindung alami. Pohon pelindung harus bersifat alami dan mengubah iklim mikro, misalnya tanaman Albisia dan Lamtoro
READ MORE - CARA MENANAM MANGGIS

BUDIDAYA KANGKUNG DARAT SEMI ORGANIK



BUDIDAYA KANGKUNG DARAT SEMI ORGANIK
(Ipomoea sp.)


Kangkung darat (Ipomoea sp.) dapat ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi. Daun kangkung panjang, berwarna hijau keputih-putihan merupakan sumber vitamin pro vitamin A. Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1) Kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan, dan 2) Kangkung air, hidup ditempat yang berair dan basah.


 Petanian organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat dilihat, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya un organik) di laboratorium. Pertanian organik dapat memberi perlindungan terhadap lingkungan dan konservasi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, memperbaiki kualitas hasil pertanian, menjaga pasokan produk pertanian sehingga harganya relatif stabil, serta memiliki orientasi dan memenuhi kebutuhan hidup ke arah permintaan pasar.

 Teknologi Budidaya

1. Benih

Kangkung darat dapat diperbanyak dengan biji. Untuk luasan satu hektar diperlukan benih sekitar 10 kg. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Sutra atau varietas lokal yang telah beradaptasi.

 2. Persiapan Lahan

Lahan terlebih dahulu dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur, setelah itu dibuat bedengan membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya adalah 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomit.

 3. Pemupukan

   Bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam diberikan pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai pemupukan dasar tambahkan pupuk anorganik 150 kg/ha Urea (15 gr/m2) pada umur 10 hari setelah tanam. Agar pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan secara larikan disamping barisan tanaman, jika perlu tambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 1 dan 2 minggu setelah tanam.
 4. Penanaman
 Biji kangkung darat ditanam di bedengan yang telah dipersiapkan. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm, tiap lubang tanamkan 2 - 5 biji kangkung. Sistem penanaman dilakukan secara zigzag atau system garitan (baris).

 5. Pemeliharaan

 Yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan air, bila tidak turun hujann harus dilakukan
 penyiraman. Hal lain adalah pengendalian gulma waktu tanaman masih muda dan menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit.

 6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)

Hama yang menyerang tanaman kangkung antara lain ulat grayak (Spodoptera litura F), kutu daun (Myzus persicae Sulz) dan Aphis gossypii. Sedangkan penyakit antara lain penyakit karat putih yang disebabkan oleh Albugo ipomoea reptans. Untuk pengendalian, gunakan jenis pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

 7. Panen

Panen dilakukan setelah berumur + 30 hari setelah tanam, dengan cara mencabut tanaman sampai akarnya atau memotong pada bagian pangkal tanaman sekitar 2 cm di atas permukaan tanah.

 8. Pasca Panen

Pasca panen terutama diarahkan untuk menjaga kesegaran kangkung, yaitu dengan cara menempatkan kangkung yang baru dipanen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin.


By Anang Budi Prasetyo,SP
     PPL BPP Kecamatan Tiris
     Kabupaten Probolinggo
READ MORE - BUDIDAYA KANGKUNG DARAT SEMI ORGANIK

ATASI ASAM URAT DENGAN TANAMAN



ATASI ASAM URAT DENGAN TANAMAN

            Asam urat kini sudah sangat familier terdengar bagi telinga awam. Hal ini dikarenakan makin banyaknya keluhan atau penyakit  yang timbul akibat dari tingginya kadar asam urat dalam darah. Dari data survey didapatkan bahwa  tiga dari seribu orang menderita hiperurisemia (peningkatan kadar asam urat dalam darah secara kronis melebihi batas normal). Umumnya, gejala ini banyak ditemui pada pria yang berumur lebih dari 40 tahun dan jarang terjadi pada wanita (kecuali setelah menopause).Asam urat adalah senyawa yang sukar larut dalam air. Kadar asam urat darah normal untuk pria dewasa berkisar antara 3,5-7,2 mg/dl dan untuk wanita antara 2,6-6,0 mg/dl.
 Penyakit yang berkaitan dengan asam urat dikenal dalam bahasa medisnya Gout (sejenis rematik). Rematik adalah penyakit yang menyerang sendi ( pertemuan tulang) dan jaringan sekitarnya. Gout terjadi karena penumpukan kristal asam urat (monosodium urat) yang masuk ke dalam rongga sendi. Padahal seharusnya asam urat yang ikut dalam peredaran darah itu oleh ginjal dapat dikeluarkan dari tubuh melalui air seni. Tetapi karena kondisi metabolisme tubuh yang kurang normal dan ginjal yang kurang berfungsi, kadar asam urat semakin meningkat. Asam urat yang beredar dalam darah semakin menumpuk menjadi sampah (lemak jenuh), ada yang nyangkut dan masuk ke dalam rongga sendi. Bila sendi bergerak, kristal-kristal tersebut saling bergesekan sehingga menimbulkan rasa nyeri.
          Rasa nyeri yang yang ditimbulkan tentunya sangat menganggu aktivitas sehari-hari. Persendian utama seperti pergelangan kaki , lutut dan pinggang terasa seperti ditusuk-tusuk. Karenanya tak heran penanggulangan atau pencegahan secara medis maupun non medis terus dilakukan. Dari penelitian diperoleh hasil ternyata ada beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam bahan alam/tanaman yang dapat menekan terjadinya asam urat dalam tubuh. Senyawa-senyawa tersebut diantaranya adalah senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan yang  dapat menghambat kerja enzim sehingga pembentukan asam urat jadi terhambat atau berkurang.
          Berdasarkan hal tersebut, beberapa tanaman yang dapat digunakan untuk menanggulangi asam urat diantaranya adalah :

TEMPUYUNG (SONCHUS ARVENSIS)

Tumbuhan yang berasal dari Eurasia ini dikenal dengan nama lokal sebagai Jombang, j. lalakina, galibug, lempung, rayana (Sunda).; Tempuyung (Jawa).; Niu she tou (China), laitron des champs (Perancis).; Sow thistle (Inggris). Merupakan tumbuhan herba menahun, tegak, tinggi 0,6 - 2 m mengandung getah dan berakar tunggang yang kuat . Tumbuh liar di tempat terbuka yang terkena sinar matahari atau sedikit terlindung, seperti di tebing-tebing, tepi saluran air, atau tanah terlantar, kadang sengaja ditanam sebagai tumbuhan obat. Daun tunggal, bagian bawah tumbuh berkumpul pada pangkal membentuk roset akar. Bunga warnanya kuning cerah, lama kelamaan menjadi merah kecokelatan. Yang berdaun kecil disebut lempung, dan yang berdaun besar dengan tinggi mencapai 2 m disebut rayana. Batang muda dan daun walaupun rasanya pahit bisa dimakan sebagai lalap. Secara tradisional tanaman ini juga sering digunakan untuk menghancurkan batu ginjal, obat memar akibat benturan, menghilangkan lesu dan pegal-pegal, sedangkan di Cina daun tempuyung selain sebagai obat juga dipakai sebagai insektisida.
Kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman ini adalah ion-ion mineral antara lain : silica, kalium, magnesium, natrium dan senyawa organic macam flavonoid (kaemferol, luteolin-7-O-glukosida dan apigenin-7-O-glukosida), kumarin (skepoletin), taraksasterol, inositol, serta asam fenolat (sinamat, kumarat dan vanilat). Dilaporkan, kandungan flavonoid total didalam daun tempuyung 0,1044 %. Sedangkan akar tempuyung mengandung senyawa alkaloid total kurang lebih 0,5 % dan flavonoid yang terbesar adalah apigenin-7-0-glukosida. Apigenin-7-0-glukosida adalah salah satu golongan flavonoid yang mempunyai potensi cukup baik untuk menghambat kerja enzim xantin oksidasi dan superoksidase, sehingga pembentukan asam urat jadi terhambat atau berkurang.
Keamanan dari pemakaian rebusan daun tempuyung telah diteliti dengan menggunakan hewan coba selama 3 bulan, dan didapatkan hasil bahwa tanaman ini aman untuk dikonsumsi asal sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
Cara pembuatan ramuan daun tempuyung untuk mengatasi asam urat :
          Sebanyak 15-60 g tempuyung segar (daun  dan akar) dicuci dan direbus dengan 3 gelas air sampai air menjadi setengahnya. Setelah dingin , disaring dan air rebusan tadi dibagi untuk diminum sehari 2 kali.

MENIRAN (PHYLLANTHUS NIRURI)
          Tanaman ini mudah tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Sering dijumpai tumbuh liar di hutan, di ladang, dan di tempat yang tanahnya lembab, berpasir, di tepi sungai, di pantai, dan bahkan tumbuh liar di sekitar pekarangan rumah. Meniran dapat tumbuh pada ketinggian hingga 1.000 meter dari atas permukaan laut. Termasuk dalam familia Euphorbiaceae. Meniran merupakan tumbuhan yang tumbuh tegak dengan tinggi 30-60 cm, batang bulat berwarna hijau kemerahan. Daun menyirip genap dan berbentuk bulat telur sampai lonjong. Bunga keluar dari ketiak daun. Buahnya bulat dan berwarna hijau keunguan.
          Kandungan kimia yang terdapat dalam meniran diantaranya adalah golongan lignan yaitu filantin, hipofilantin, niranin, niratetralin dan fitetralin. Akar dan daun dari meniran dilaporkan kaya akan senyawa flavonoid antara lain quercetin, quercetrin, isoquercetrin, astragalin dan rutin. Disamping itu , ditemukan pula beberapa glikosida flavonoid dan senyawa flavonon baru. Dari minyak bijinya telah pula diidentifikasi beberapa asam lemak yaitu asam ricinoleat, asam linoleat dan asam linolenat.
          Karena meniran mempunyai kandungan utama senyawa golongan flavonoid dan glikosida flavonoid yang mana mampu memberikan efek menghambat terhadap kerja enzim xantin oksidase dan superoksidase, maka pembentukan asam urat pun jadi terhambat atau berkurang.
Cara pembuatan ramuan:
          30 g Meniran (seluruh bagian ) segar direbus dengan 2 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin disaring, lalu diminum  sehari 2 kali 1/2 gelas pagi dan sore.
Suatu hal yang harus menjadi perhatian adalah , tanaman meniran ini tidak boleh dikonsumsi oleh wanita hamil karena bisa menyebabkan keguguran. Selain itu pemakaian berlebihan dari herba meniran pada kaum pria dapat menyebabkan impotensi.

SELEDRI (APIUM GRAVIOLENS)

          Tanaman ini berbau khas aromatik, bila dikonsumsi akan menimbulkan rasa agak pedas dan rasa tebal di lidah. Berwarna hijau sampai hijau kecoklatan. Kiranya hampir semua orang pernah mengkonsumsi tanaman ini. Biasanya digunakan untuk menimbulkan aroma sedap pada makanan ataupun untuk memperindah tampilan masakan. Namun kegunaan tanaman  ini tak hanya itu, ternyata tanaman ini juga mempunyai banyak khasiat yang menguntungkan. Selain untuk menurunkan tekanan darah, meniran ternyata dapat membantu untuk mengatasi masalah asam urat.
          Secara tradisional penduduk di daerah Amerika Utara dan para imigran di Eropa, biasa mengkonsumsi baik secara mentah ataupun dimasak dari biji seledri ataupun seluruh bagian tanaman ini untuk mengatasi rematik (Gout). Bahkan para herbalis di Amerika Utara telah menggunakan tanaman ini secara konsisten dalam mengobati rematik segala jenis termasuk Gout. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa seledri mengandung lebih dari 25 macam senyawa anti radang (radang adalah salah satu manifestasi penyakit rematik). Bila dikonsumsi sebagai makanan , seledri kaya akan mineral. Bahkan dikatakan 1 cangkir seledri mengandung lebih dari 340 mg kalium. Perlu diketahui, kekurangan kalium akan dapat menyebabkan timbulnya gejala-gejala yang berkaitan dengan rematik.
Cara pembuatan ramuan tradisional dari seledri:
          Ada banyak resep tradisional yang bisa anda coba dari seledri ini dalam mengatasi masalah asam urat,  jadi anda bisa memilih ramuan mana yang anda suka dan yang mudah mempersiapkannya. Ramuan itu adalah :
-         1 sendok biji seledri ,  tuanglah kedalam cangkir, kemudian isilah cangkir dengan air mendidih. Tutup dan biarkan selama 15 menit. ,kemudian minumlah airnya. Anda bisa mengkonsumsi sampai 3 kali sehari 1 cangkir apabila terjadi serangan rematik yang mendadak.
-         1 genggam daun dan batang seledri dicuci bersih lalu dipotong kecil-kecil. Rebus dalam 2 gelas air sampai menjadi separuhnya. Setelah dingin , saring dan airnya diminum sekaligus.
-         30 - 40 helai daun seledri segar dicuci bersih dengan air matang lalu dibilas dengan air hangat. Makan daun ini sebagai lalap 2 kali sehari.
Perhatian :
          Bagi para penderita tekanan darah rendah, harap berhati-hati mengkonsumsi tanaman seledri ini. Karena mengkonsumsi seledri segar lebih dari 200 g sekali minum dapat menyebabkan tekanan darah secara tajam sehingga dapat terjadi shock. Dosis 200 g meniran segar juga dapat menyebabkan efek diuretik ( mempermudah pengeluaran air seni).
          Hal lain yang tak kalah pentingnya selain dengan pengobatan adalah bahwa para penderita asam urat tetap harus memperhatikan apa saja yang dapat memperberat penyakit ataupun yang dapat untuk mencegah terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam darah.
          Penderita gout jangan menyantap makanan yang banyak mengandung purin, seperti jerohan, ikan cumi, kepiting, udang, beberapa jenis ikan termasuk ikan asin (gereh), daging (berlemak). Begitupun tanaman, ada  beberapa jenis sayur yang juga tidak baik bagi penderita gout seperti bayam, kangkung, asparagus, daun singkong, daun pepaya (tapi buah pepaya boleh), kacang-kacangan, emping dan semuanya yang berasal dari belinjo. Sebaiknya pula berhenti untuk mengkonsumsi alkohol dan rokok. Sebaliknya hendaknya memperbanyak untuk minum air putih, mengkonsumsi tomat, tumbuhan laut, buah cherry, strawberry, pisang. Nah selamat mencoba.

Sumber :
Dr.. Wiwied Ekasari, Apt, Msi Dept. Farmakognosi dan Fitokimia Fakultas Farmasi Univ. Airlangga
READ MORE - ATASI ASAM URAT DENGAN TANAMAN