teks

SELAMAT DATANG DI BLOG BPP KECAMATAN TIRISblink>

Rabu, 05 Agustus 2015

PESTISIDA DAN ANCAMANNYA BAGI KESEHATAN



PESTISIDA DAN ANCAMANNYA BAGI KESEHATAN
                                                                                     By: Anang Budi Prasetyo,SP




Kita adalah representasi dari apa yang kita makan. Semua bahan yang dikonsumsi akan membentuk sel-sel tubuh kita. Jadi, sehat tidaknya tubuh sangat ditentukan kualitas makanan yang masuk. Lantas agaimana jika makanan yang masuk mengandung residu pestisida? Ya, otomatis residu pestisida itu akan tersimpan dalam jaringan tubuh kita.
Pernahkah terpikir, bayam hijau segar atau tomat merah ranum yang Anda konsumsi sebenarnya mengandung residu pestisida? Studi Pesticide Action Network Inggris di sejumlah negara maju di Eropa tahun 2006 (Your Daily Poison: The Second UK Pesticide Exposure Report) menunjukkan, produk-produk pertanian yang dijual di pasar negara-negara tersebut mengandung residu pestisida dalam jumlah yang signifikan. Ini terjadi di negara maju yang standar pengawasan keselamatan konsumennya cukup ketat. Bagaimana dengan kita di Indonesia yang bisa dibilang tidak memiliki standar pengawasan keselamatan konsumen yang jelas? Rasanya hidup bebas tanpa pestisida bagi kebanyakan masyarakat cukup sulit, bila tak mau dibilang mustahil.
Petani biasa menyemprotkan pestisida saat budi daya dan sekali lagi menjelang panen agar tanaman sayur dan buah tetap berkualitas baik sampai di pasar. Bila intensitas penyemprotan tinggi, pestisida yang melekat pada tanaman biasanya meninggalkan residu cukup besar. Berdasarkan racunnya, pestisida dibagi dua, yaitu sistemik (contohnya Dimicron dan Tamaron) dan nonsistemik (contohnya Dithane). Pada jenis sistemik, pestisida yang disemprotkan meresap ke seluruh bagian tanaman, termasuk daun, akar, dan buah. Sedangkan pada nonsistemik, racun hanya ada di permukaan, tidak terserap. Menghilangkan residu pestisida nonsistemik bisa dengan mencucinya di air mengalir, walau tidak dijamin hilang 100 persen. Sementara residu pestisida sistemik, sulit dihilangkan dan akan tertimbun dalam tubuh konsumen. Ini semua terjadi karena residu pestisida bisa dipindahkan dari satu makhluk hidup ke makhluk hidup lain. Residu pestisida di dalam tanaman akan berpindah ke dalam jaringan daging hewan yang memakannya. Jika hewan ini dikonsumsi manusia, residu pestisida tadi akan masuk ke dalam tubuh manusia. Celakanya lagi, residu pestisida, tidak mudah terurai dan dikeluarkan dari tubuh. Bahkan menurut PAN UK dalam bukletnya Pesticide on A Plate (2007), dalam tubuh tiap orang di dunia saat ini bisa ditemukan jejak-jejak DDT.




Jaringan tubuh yang tercemar residu pestisida akan terganggu kesehatannya karena bahan kimia penyusun pestisida adalah racun yang keras. Memang secara umum, efeknya tak terlihat seketika, melainkan butuh waktu lama, bahkan bisa bertahun-tahun. Dalam jangka panjang, ketika sudah mencapai ambang batas tertentu, akumulasi racun ini bisa membuat sel tubuh melemah, mudah rusak, bahkan mengalami mutasi. Timbullah gangguan otak, tumor, kanker, bahkan pada ibu hamil bisa mengakibatkan bayi lahir cacat. Bila pestisida yang tertimbun dalam tubuh berbahan dasar logam berat, bisa mengganggu sistem saraf. Banyaknya bayi lahir dengan berbagai kelainan, seperti autis dan kembar siam, disinyalir juga disebabkan timbunan residu pestisida di dalam tubuh ibunya semasa hamil (www.panna.org/resource/autism and pesticide, 2007), yang berpindah ke janin melalui plasenta. Inilah mengapa, pendekatan PHT adalah metode pengendalian hama-penyakit yang jauh lebih baik dari penggunaan pestisida.


READ MORE - PESTISIDA DAN ANCAMANNYA BAGI KESEHATAN

Kamis, 23 Juli 2015

PANDUAN MENYEMPROT PESTISIDA



PANDUAN MENYEMPROT PESTISIDA


Oleh : Anang Budi Prasetyo,SP



Menyemprotkan pestisida (insektisida, fungisida, herbisida) tidaklah semudah menyemprotkan pupuk daun. Pada penyemprotan pupuk daun, kita Cuma berusaha membasahi permukaan daun tanaman dengan larutan pupuk, agar nantinya masuk ke dalam jaringan daun melalui stomata (mulut daun). Pada penyemprotan pestisida, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, sebelum menyemprot dilakukan. Antara lain yang berhubungan dengan nozzle (muara pancar larutan pada sprayer), sifat pestisida yang mau disemprotkan, waktu penyemprotan, dan perlu tidaknya menambahkan bahan perata-perekat pestisida. Berikut ini disajikan penjelasan yang dihimpun dari berbagai perusahaan pestisida, yang berlaku bagi insektisida dan fungisida.

1. Memilih Nozzle yang Sesuai

Nozzle untuk menyemprotkan insektisida dan fungisida harus dipilih yang mampu menghasilkan pancaran menyebar seperti kerucut. Ini supaya daerah liputan pestisida bisa luas dan merata. Jenis nozzle yang mampu berbuat demikian disebut cone nozzle. Ini berbeda dengan polijet nozzle, yang pancarannya berbentuk kipas, untuk menyemprotkan herbisida.

Sprayer yang tangkinya terbuat dari logam, hanya dapat dipakai untuk menyemprotkan insektisida atau fungisida, tidak untuk herbisida (sebab herbisida bisa merusak logam). Oleh karena itu sprayer ini hanya bisa dipasangi cone nozzlesaja. Tetapi sprayer yang tangkinya terbuat dari plastik, selain bisa digunakan untuk menyemprotkan insektisida dan fungisida, juga bisa dipakai untuk menyemprotkan herbisida (herbisida tidak akan merusak plastik). Karena itu ia bisa dipasangi baik cone nozzle, maupun polijet nozzle. Kalau yang anda miliki itu sprayer jenis ini, maka sebelum dipergunakan menyemprotkan insektisida atau fungisida, mesti dicoba dulu untuk dilihat bentuk pancaran semprotannozzle-nya. Berbentuk kipas ataukah kerucut? Kemudian diganti dengan cone nozzle kalau bentuk semprotannya menyerupai kipas.

Jenis sprayer tangan yang biasa dipakai menyemprot tanaman kecil, dan Tree sprayer untuk menyemprot pohon pohon tinggi, umumnya juga mempunyai nozzle yang hasil semprotannya menyerupai kerucut. Kedua jenis sprayer itu bisa untuk menyemprotkan insektisida atau fungisida.

Nozzle yang dipakai juga harus bisa memancarkan larutan dengan butiran-butiran yang halus, agar pestisida bisa tersebar pada permukaan daun tanaman, tidak menempel dalam bentuk gelembung besar yang jarang. Butiran halus hasil semprotan bisa didapat kalau nozzle yang dipakai masih bagus, tidak tersumbat, atau menjadi besar lubangnya karena ditusuk-tusuk. Nozzle yang sudah usang harus diganti dengan yang baru.

2. Sifat Pestisida

Pestisida mana yang mau disemprotkan, mesti disesuaikan dengan tujuannya. Kalau tujuannya untuk pencegahan, sebaiknya digunakan pestisida sistemik yang karena diserap dan diedarkan ke seluruh bagian tanaman lalu bisa agak tahan lama ampuhnya. Sebaliknya kalau ingin segera menumpas serangga yang sedang mengganas, maka akan lebih efektif kalau yang disemprotkan itu pestisida kontak, yang mampu membunuh secara langsung, begitu ia mengenai serangga.

3. Waktu Penyemprotan

Waktu penyemprotan yang baik adalah pada pagi atau sore hari kalau tidak ada angin kencang yang sedang berhembus, dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Jadi tidak akan banyak pestisida yang hilang karena hembusan angin atau guyuran air hujan.

Penyemprotan juga tidak boleh dilakukan sehabis hujan turun. Soalnya, sehabis hujan permukaan daun biasanya masih basah dan licin, hingga butiran pestisida yang disemprotkan sukar melekat pada daun.

4. Bahan Perata-Perekat Pestisida

Kalau penyemprotan dilakukan pada musim hujan atau kalau permukaan daun tanaman yang akan disemprot itu berlapis lilin, atau banyak ditumbuhi bulu-bulu halus, maka pestisida perlu dibubuhi bahan perata-perekat, yang akan bertugas memperkokoh daya rekat pestisida pada daun. Bahan perata-perekat itu misalnya : Citowet, Sandovit, Tenac Sticker,Agral 900 dan Triton CS-7. Cara memakainya cukup dengan menambahkan bahan perata-perekat tersebut pada larutan pestisida yang akan disemprotkan, dosisnya bisa dilihat pada petunjuk pemakaian masing-masing bahan perata-perekat

 

READ MORE - PANDUAN MENYEMPROT PESTISIDA