teks

SELAMAT DATANG DI BLOG BPP KECAMATAN TIRISblink>

Jumat, 04 Januari 2013

PAKET TEKNOLOGI USAHATANI PADI



PAKET TEKNOLOGI USAHATANI PADI
Oleh Anang Budi Prasetyo,SP


Luas areal padi sawah setiap tahun di Jawa Timur mencapai 1,62 juta ha berupa padi sawah dan padi gogo. Areal padi sawah irigasi maupun tadah hujan seluas 1,52 juta ha/tahun. Tingkat produktivitas padi antar hamparan maupun antar petani di Jawa Timur masih sangat beragam, dengan kisaran hasil antara 3,5 ton hingga 9 ton/ha GKP. Adanya kesenjangan tingkat produksi yang cukup tinggi tersebut, mengisyaratkan adanya peluang untuk meningkatkan produksi padi di Jawa Timur dengan menerapkan teknologi spesifik lokasi sesuai dengan agroekologi setempat.

VARIETAS DAN KEBUTUHAN BENIN

Pergiliran  varietas  harus  dilaksanakan  guna  memperpanjang  sifat  ketahanan suatu varietas atas serangan hama dan penyakit tertentu. Hama dan penyakit utama seperti wereng coklat, virus tungro, bakteri hawar daun atau kresek ( Xanthomonas capetris sp ) dan bias ( Pyricularia oryzae) dikendalikan dengan penerapan pergiliran varietas. Beberapa hal penting yang harus dipertimbangkan dalam memilih varietas di wilayah hamparan tertentu :

1.       Varietas umur sedang 120 hari - 130 hari, agar tidak mengganggu pola tanam.
2.       Benih bermutu baik dengan daya tumbuh > 90"/>, campuran varietas lain (cvl)
kurang dari 1%. Benih berasal dari produsen yang dapat dipercaya.
3.       Kebutuhan benih 30 - 35 kg/ha untuk cara pindah dan jajar legowo 35 - 40 kg/ha.
4.       Di daerah endemis serangan penyakit tungro dapat dipilih varietas Memberamo,
IR-66, dan IR-74.
5.        Di daerah endemis serangan wereng coklat dapat dipilih varietas : Memberamo, Digul, Barumun, Way Apo Buru, Widas dan Ketonggo (ketan).
6.        Di  daerah  endemis  penyakit  hawar  daun  bakteri  dianjurkan  menggunakan varietas : Way Apo Buru, Krueng Aceh, Memberamo, Cilosari, Cibodas, Maros
dan Widas.
7.       Memberamo lebih sesuai ditanam pada musim hujan II (MH II) atau musim gadu
(MK I). Bila terpaksa ditanam pada musim hujan, dosis N yang dianjurkan adalah
200 kg Urea dengan pengairan berkala atau terputus-putus.
8.       Untuk daerah yang tidak terjadi masalah serangan hama dan penyakit varietas
yang dipilih : IR-64, Way Apo Buru dan Widas pada MH, pada MK71 varietas
Memberamo, Widas/Way Apo Buru.
9.        Sawah tadah hujan dapat ditanam varietas Grata, Way Rarem, Towuti, IR-64 dan IR-36.

PESEMAIAN DAN BIBIT

Yang harus diperhatikan dalam membuat pesemaian agar diperoleh bibit yang sehat/kuat antara lain yaitu:


1.       Untuk setiap 1 hektar pertanaman padi, area pesemaian yang disiapkan seluas
5% (1/20-nya).
2.        Pesemaian  dibuat  pada  area  yang  mudah  di  airi,  dan  tidak  di area bekas serangan tungro dan penggerek batang.
3.       Hindarkan pembuatan pesemaian dekat lampu agar tidak menarik hama wereng
dan penggerek batang.
4.       Benih di rendam selama 24 jam dan diperam selama 24 jam.
5.        Untuk daerah endemis serangan wereng coklat, benih sebaiknya diperlakukan dengan cara dicampur dulu dengan insektisida fipronil sebelum disemaikan.
6.       Pemupukan pesemaian dengan 10 kg Urea + 5 kg SP-36 + KCi 3 kg setiap 500
m2 diberikan 5 hari setelah tabur benih.
7.       Untuk   mencegah   serangan   wereng   coklat,   benih   dicampur   dulu   dengan
insektisida fipronil (Regent 50 SC).
8.        Pencegahan  serangan  penggerek  batang  dan  tungro,  pesemaian  disemprot dengan penaburan insektisida karbofuran 20 gr/10 m2 atau insektisida lain bila
dijumpai serangga penular.
9.       Bibit dipindahkan pada umur 25 - 28 hari.
10.      Penanaman pada lahan yang P" > 6,5 atau diperkirakan kahat Zn, bibit sebelum ditanam supaya dicelup dalam larutan 2% Zn S04 selama 2 menit.
11.      Bibit yang menunjukkan gejala penyakit tungro (warna daun kuning kemerahan dan kaku) atau adanya gejala ganjur tidak ditanam.

PENGOLAHAN LAHAN

Pengolahan tanah dimaksudkan untuk mendapatkan media tumbuh yang baik bagi tanaman, dan juga berfungsi sebagai tindakan pengendalian gulma. Anjuran pengolahan tanah sebagai berikut:

1.        Dianjukan  menambah  2-5 ton/ha bahan organik (pupuk kandang / kompos ) diberikan sebelum pengolahan tanah I, terutama pada tanah yang kadar bahan organiknya rendah.
2.        Tanah berat dibajak dua kali, arah bajakan membentuk garis silang tegak lurus, kedalaman bajak 15 - 20 cm. Tanah ringan pembajakan dilakukan satu kali dan digaru satu kali pada kedalaman sekitar 25 cm.
3.        Untuk melumpurkan dan meratakan tanah, tanah dirotari dan di "gelebek" satu atau           dua   kali.   Bila   tidak   terdapat   rotari   bisa   dicangkul  atau  dilakukan penggaruan.
4.       Gulma dan sisa tanaman diambil dan disingkirkan dari petakan sawah.
5.        Untuk keserempakan saat tanam, waktu yang diperlukan saat pengolahan tanah pertama hingga lahan siap tanam sekitar 2 minggu.

PENANAMAN

Penanaman dapat dilakukan dengan sistem pindah biasa atau JAJAR LEGOWO
1.       Saat tanam diupayakan seserempak mungkin, dalam suatu hamparan seluas +
50 ha diusahakan selesai sekitar 10 hari.
2.       Pembuatan  jarak  tanam  dilakukan  dengan  menggunakan  garetan  atau  "blak"
yang telah ditentukan jarak tanamnya.
3.       Jarak tanam :


-         Tapi biasa : 18cm x 18cm ; 20cm x 18cm ; 20cm x 20cm, 2-3 bibit/rumpus.
-           Jajar legowo : 40 cm x ( 20 cm x 10 cm ), jarak antar barisan berselang - seling 40cm dan 20cm, jarak dalam barisan l0cm, 2-3 bibit/ rumpus.

PENYIANGAN

1.       Penyiangan secara manual atau menggunakan "osrok"/ landak.
2.        Penyiangan dapat dilakukan secara kombinasi dengan herbisida dan tangan, dengan teknik sebagai berikut
-         Penyemprotan herbisida purna tumbuh pada umur±15 hari, dosis 2 - 3
It/ha atau menurut petunjuk. Contoh herbisida Saturn-D, Ally, Rumpass, Agroxon, Ronstar dll.
-         Penyiangan  pada  umur  _+  30  hari  bisa  menggunakan  tangan  atau
"osrok".

PEMUPUKAN

1.        Dosis pupuk Urea 250-300 kg/ha, diberikan 2 kali umur 1/2 dosis pada 8-15 hari setelah tanam (HST) dan ½ dosis pada saat primordia (45 hst). Pada tanah porus Urea diberikan tiga kali yaitu pada umur ± 15 hst,  + 28 hst dan 42 hst, masing-masing 1/3 dosis Urea.
2.       Dosis pupuk P dan K ditentukan berdasarkan hasil analisa tanah yaitu dosis
SP-36 50-100 kg dan KCI 50-75 kg/ha.
3.       Saat ini di pasar bebas telah beredar pupuk alternatif, selain pupuk standar
seperti Urea, SP-36 dan KCI.
4.        Lebih jelasnya dosis pemupukan N, P dan K maupun pupuk alternatif tanaman padi dapat di konsultasikan dengan PPL/BPP setempat.

PENGAIRAN

1.        Usahakan pengelolaan air seefisien mungkin, agar penggunaan air lebih hemat sehingga areal yang diairi lebih luas.
2.        Sistem pengairan terputus (diairi 4-6 hari sekali) memberikan hasil yang sama dengan pengairan tergenang terus menerus dan dapat menekan populasi hama dan penyakit.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Pengendalian hama dan penyakit utama tanaman padi seperti tikus, wereng, penggerek batang dan penyakit tungro, sbb:

a.       Pengendalian tikus
1.         pengendalian tikus dengan bubu dilakukan seawal mungkin, yaitu pada saat pengolahan tanah sampai panen. Pemasangan bubu dipesemaian maupun  dipertanaman  merupakan  salah  satu  cara  menekan  populasi tikus.
2.       Pengendalian dengan racun tikus, terdapat dua macam racun yaitu racun
akut ( sangat beracun, membunuh tikus dengan cepat ) dan racun kronis
(membunuh -tikus setelah makan berulang-ulang ).


3.         Pengumpanan  dengan  racun  akut  efektif  dilakukan  pada  saat  bera menjelang musim hujan, pada saat itu sumber makanan tidak tersedia.
4.       Saat pertumbuhan vegetatif umpan diletakkan di pematang dengan jarak
± 50 m antar lokasi umpan.
5.       Pada  fase  bunting,  umpan  diletakkan  pada  petak  sawah  sejauh  satu
meter dari pematang.
6.       Saat padi berbunga hingga panen, tikus sedang bunting atau beranak,
pengemposan dengan asap belerang atau karbit merupakan cara yang efektif. Pemasangan umpan pada fase ini tidak efektif, karena sumber makanan melimpah.

b.       Pengendalian Wereng Coklat
*          Tanam serempak, selang waktu tanam dalam satu hamparan tidak lebih dari 3 minggu.
*         Laksanakan pergiliran varietas.
*          Setiap  varietas  jangan  ditanam  lebih  dari  2  kali  berturut-turut  dalam setahunnya, selingi dengan palawija.
*         Pembuatan pesemaian dan penyediaan bibit sehat.
*         Hindarkan  pemupukan  N  (Urea)  berlebihan.  Pupuk.  K  (KCI)  dapat
mengurangi keparahan akibat serangan hama wereng.
*          Pada tanaman terserang, keringkan petakan 3  - 4 hari. Segera setelah panen tunggul jerami di bakar dan di bajak.
*          Apabila  dalam  pengamatan  ditemukan  lebih  dari  5  ekor  wereng  saat tanaman berumur kurang 40 hari, dan lebih dari 20 ekor wereng pada tanaman      berumur   lebih   dari   40   hari.   Tanaman   disemprot   dengan insektisida seperti Applaud, Regent 50 SC, Confidor 5 WP, atau Winder
25 WP.

c.       Penyakit Tungro

*          Segera setelah panen tanah dibajak agar singgan tidak tumbuh. Tanam seawal mungkin secara serempak.
*         Pergiliran tanaman padi - padi - palawija.
*         Gunakan varietas tahan tungro seperti Mamberamo, IR-66, dan IR-74.
*         Mencabut tanaman yang terserang.
*          Pengendalian  secara  kimiawi  dilakukan  sejak  di  pesemaian  dengan insektisida karbofuran (Furadan, Curater dll), atau dengan Confidor 5 WP.

d.       Penggerek Batang.

*          Sampai saat ini tidak ada varietas padi yang tahan terhadap penggerek batang. Lakukan tanam serempak.
*         Memotong jerami serendah mungkin dan di bakar.
*          Hindarkan  pemupukan  N  yang  berlebihan,  pupuk  K  dapat  mengurangi keparahan akibat serangan penggerek batang.
*         Segera setelah panen tunggul jerami dibakar dan dibajak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon konfermasi balik....dari anda terhormat. Biar tampilan lebih baik.