teks

SELAMAT DATANG DI BLOG BPP KECAMATAN TIRISblink>

Jumat, 07 September 2012

Petunjuk Pelaksanaan SL_GAP Alpukat


 PETUNJUK PELAKSANAAN SL-GAP ALPUKAT
DESA RANUGEDANG
KECAMATAN TIRIS KABUPATEN PROBOLINGGO

Oleh :
ANANG BUDI PRASETYO,SP
PLL BPP KECAMATAN TIRIS


PENDAHULUAN

Sebagai petunjuk lebih rinci dari Pedoman Umum Sekolah Lapang GAP/SOP Buah-buahan ( Tanaman Alpukat ), maka perlu dibuatkan Petunjuk Lapangan untuk setiap komoditas yang dibudidayakan sesuai dengan tahapan SOP dan pelaksanaan Sekolah Lapang.
Ruang lingkup dari Petunjuk Lapang SL-GAP/SOP alpukat di wilayah Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo, adalah sebagai berikut :

1.         Kurikulum dan Jadwal Kegiatan Pertemuan
2.         Perencanaan
3.         Pembagian Peran
4.         Pengamatan, Analisis dan Diskusi Agroekosistem
5.         Perencanaan Kebun
6.         Penyiapan Benih Bermutu
7.         Penanaman Benih Alpokat
8.         Pemupukan
9.         Pengairan
10.      Pemangkasan
11.      Penyiangan
12.      Penjarangan Buah
13.      Pengendalian OPT
14.      Panen
15.      Penanganan Pasca Panen (Sortasi dan Grading)
16.      Penanganan Pasca Panen (Pengemasan dan Pengepakan)
17.      Kesehatan, Keamanan dan Keselamatan Pekerja
18.      Dinamika Kelompok
19.      Uji Ballot Box
20.      Rencana Tindak Lanjut Pasca SL
21.      Pencatatan
22.      Temu Lapang

Petunjuk Lapang SL-GAP/SOP Alpukat dapat dijadikan acuan dalam penyelenggaraan SL-GAP/SOP Alpukat dengan kurikulum yang ditetapkan sesuai tahapan SOP sebagai    berikut :


PETUNJUK LAPANGAN KE I
KURIKULUM DAN JADWAL KEGIATAN PERTEMUAN


1.     Kurikulum
a.     Materi Pokok
-    Pengamatan agroekosistem
-    Analisis agroekosistem
-    Teknik budidaya
-    Panen dan Pasca Panen
-    Dinamika kelompok, kelembagaan, kerjasama, dan lain-lain.

b.     Materi Muatan Lokal
Sesuai dengan kebutuhan kelompok, dalam rangka memecahkan masalah saat kegiatan berlangsung. Materi disusun berdasarkan perencanaan awal.

c.     Studi Perbandingan
-    Petak SOP/GAP Budidaya Alpukat
Petak yang dikelola berdasarkan prinsip SOP budidaya berbasis GAP dengan jumlah populasi tanaman 50 - 100 tanaman alpokat.
-    Petak konvensional
Petak yang dikelola berdasarkan kebiasaan petani setempat dengan jumlah populasi tanaman 50 - 100 tanaman alpokat.

2.       Jadwal Kegiatan Mingguan SL GAP/SOP Alpokat

SL SOP/GAP Buah Alpukat dilaksanakan 1 kali periode berbuah, selama 5 s/d 6 bulan dengan jumlah pertemuan sebanyak 10 kali.

3.     Jadwal harian (5 jam efektif)
a. Kontrak belajar (15 menit)
b. Pengamatan agroekosistem pertahapan SOP Budidaya Alpukat dan Pencatatan (75 menit)
c. Analisis, presentasi, diskusi hasil pengamatan dan pencatatan (75 menit)
d. Dinamika kelompok (75 menit)
e. Topik khusus (90 menit)
f.  Evaluasi dan rencana tindak lanjut pertemuan selanjutnya (15 menit)



PETUNJUK LAPANGAN KE II
PERENCANAAN

A.   Latar Belakang

Salah satu unsur dalam manjemen kegiatan/organisasi adalah perencanaan. Jika perencanaan dapat diselesaikan dengan baik maka salah satu dukungan keberhasilan kegiatan telah dicapai. Perencanaan yang baik harus disertai dengan aksi yang baik di lapangan, agar keberhasilan program dapat dicapai dengan proporsional.
Perencanaan partisipatoris merupakan kegiatan perencanaan yang melibatkan semua pihak secara aktif, dinamis dan demokratis agar implementasi perencanaan dapat berjalan dengan baik. Pada perencanaan partisipatoris, partisipan tidak saja membuat rencana kerja, akan tetapi akan mengorganisir/membagi peran dan mengevaluasi kegiatan yang akan dilakukan. Perencanaan yang baik dan benar adalah perencanaan yang disusun berdasarkan permasalahan yang sedang dihadapi.
     
B.   Tujuan

1.     Mengetahui dan menetapkan sumberdaya yang ada di lapangan
2.     Mengetahui faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman
3.     Rencana kerja/kegiatan terkait dengan pelaksanaan SL-GAP berupa materi muatan lokal, studi petani dan kegiatan lainnya.

C.   Bahan dan Alat
Kertas plano/flipchart, spidol dan skotlite

D.   Tahapan Pelaksanaan

1.     Pemandu Lapangan menjelaskan maksud dan tujuan perencanaan terkait dengan pelaksanaan SL GAP
2.     Membuat matriks analisis SWOT/K3A (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman)
3.     Dengan curah pendapat berdasarkan kondisi sumberdaya yang ada, pemandu menginventarisasikan pendapat dan masalah yang terkait dengan analisis K3A sesuai dengan kolom yang sudah tersedia.
4.     Setelah menyelesaikan analisis K3A, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan langkah-langkah kegiatan (rencana kerja) dengan mengangkat data dari kelemahan dan ancaman serta memperhatikan kekuatan dan kesempatan. Langkah tersebut misalnya dikaitkan dengan materi lokal (muatan lokal) dan studi petani dalam rangka persiapan SL GAP yang akan dilaksanakan.

E.   Diskusi
Catatan :
Pedoman Analisis K 3 A adalah sebagai berikut:



ANALISIS K3A
(KEKUATAN, KELEMAHAN, KESEMPATAN, DAN ANCAMAN) 


A.  Latar belakang
     
Analisis K3A bisa digunakan secara berkelompok atau secara individu. Analisis K3A bertujuan untuk melaksanakan rencana dalam rangka mencapai tujuan. Maka sebelum kita bisa memanfaatkan analisis K3A seharusnya tahu dalam rangka untuk keperluan apa analisis itu akan digunakan. Dalam rangka terwujudnya salah satu tujuan, rencana yang terbaik adalah sebuah rencana yang memperkaya atau memanfaatkan kekuatan, memperkuat atau menghindari kelemahan, memanfaatkan atau mengembangkan kesempatan yang ada dan mengurangi atau mengamankan ancaman yang akan dihadapi.
Dengan menggunakan analisis K3A kita akan menjadi lebih jelas mengenai kekuatan, kelemahan, dan ancaman, supaya dapat melaksanakan rencana yang terbaik.

B.  Bahan-bahan

Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah kertas koran, spidol dan lakban.

C.  Langkah-langkah

Analisis K3A tidak bisa dilaksanakan dengan baik kalau tidak ada tujuan yang dapat digunakan sebagai kerangka atau landasan pemikiranya. Supaya langkah-langkah berikut lebih jelas, sebaiknya kita menentukan tujuan sebagai contoh. Sebagai contoh tujuan tersebut adalah : Supaya sebanyak mungkin petani di desa kita dapat menerapkan prinsip-prinsip GAP/SOP di lahannya.
1.  Ambil 4 lembar kertas koran dan tulislah disudut atas kertas pertama : Kekuatan, yang kedua Kelemahan, dan yang ketiga Kesempatan serta yang keempat ancaman. Tempelkan masing-masing lembar kertas di dinding seperti berikut:

KEKUATAN
  
KELEMAHAN
KESEMPATAN
ANCAMAN

  2. Dengan menggunakan proses curah pendapat daftarlah pada kertas koran mengenai kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman yang terkait dengan tujuan yang telah ditentukan. Kembali ketujuan yang telah ditulis, berikut ini adalah usulan-usulan sebagai contoh untuk kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman.











Supaya sebanyak mungkin petani didesa kita dapat menerapkan prinsip-prinsip GAP/SOP di lahannya
KEKUATAN
KELEMAHAN
§  Semua masyarakat mempunyai tanaman alpukat.
§  Alpukat cocok di tanam dilahan     ( Tegal,Pekarangan Hutan )
§  Pernah ada  SLPHT di desa.
§  Tersedia Jenis/Varietas yang telah dilepas oleh menteri pertanian.
§  PPL aktif dan paham akan budidaya tanaman alpukat.
§  Kepala Desa mendukung program GAP.
§  Pangsa pasar terbuka lebar.
§  Pupuk organik tersedia secara melimpah.
§  Adanya dukungan dari Dinas terhadap program pengembangan kawasan buah-buahan
·         Jenis alpukat yang di tanam jenisnya tidak sama             ( Bermacam-macam )
·         Petugas selain  PPL kurang giat/ Aktif.
·         Masyarakat banyak yang tidak tahu GAP/SOP.
·         Masyarakat belum mengerti akan cara fermentasi pupuk kandang/ organik.

KESEMPATAN
ANCAMAN
§  Tanaman alpukat ditanam bisa menghasilkan/ berproduksi.
§  Harga jual lebih baik bila dilakukan pemeliharaan dengan baik.
§  Sertifikasi kebun/ tanaman terbuka lebar untuk mendapatkan sertifikat prima.
§  Adanya dukungan program dari dinas pertanian.

§  Terjadi serangan jamur/ fusarium.
§  Eradikasi terhadap tanaman yang terserang jamur tidak dilakukan petani, mengakibatkan tanaman lain tertular.


 3. Setelah analisis selesai (seperti tabel), kita lebih jelas lagi mengenai apa yang kita rasakan sebagai kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman yang dihadapi oleh kita. Untuk menyusun rencana kegiatan yang berdasarkan atas analisis K3A ada 4 pertanyaan yang bermanfaat, yaitu:
a. Bagaimana cara memperkaya atau memanfaatkan kekuatan?
b. Bagaimana cara memperkuat atau menghindari kelemahan?
c. Bagaimana cara memanfaatkan atau mengembangkan kesempatan?
d. Bagaimana cara mengurangi atau mengamankan ancaman yang dihadapi?

Kembali ke contoh ;

Kekuatan yang perlu dimanfaatkan adalah PPL setempat.
Memanfaatkan mereka dengan mengadakan SL GAP/SOP untuk petani yang belum ikut SL GAP/SOP.  Memanfaatkan petani dan pemandu yang pernah ikut SLPHT di dalam  SL GAP/SOP karena akan lebih memudahkan pelaksanaan SL GAP/SOP (Usulan ini cocok dengan kesempatan yaitu ada petani yang ingin tahu tentang GAP/SOP).
Kelemahan yang perlu diperkuat adalah Jenis tanaman Alpukat yang bermacam-macam..
Minta Bantuan/ sumbangan atau membeli  kepada pemilik Pohon Induk Tunggak ( PIT ) tanaman alpukat, berupa stek/ entres dengan cara iuran bersama anggota kelompok tani atau minta sumbangan dari petani peserta SL GAP/SOP
Kesempatan yang perlu dimanfaatkan adalah tanaman alpukat ditanam bisa menghasilkan atau berproduksi, sehingga dalam membeli entres dari pohon induk tunggal bisa dilakukan dengan cara pembayaran setelah berproduksi.
Adanya dukungan dari dinas pertanian terhadap pengembangan kawasan buah-buahan, khususnya alpukat
Ancaman yang perlu dilaksanakan adalah pelaksanaan eradikasi pada tanaman yang terserang jamur.

E.  Hal-hal yang penting.

1.    Analisis K3A bertujuan untuk menyusun rencana supaya dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
2.    Sebelum bisa memanfaatkan analisis K3A seharusnya mengetahui dalam rangka tujuan apa analisis akan digunakan.
3.    Dengan menggunakan proses curah pendapat dan menulisnya dikertas koran tentang kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman yang terkait dengan tujuan yang telah ditentukan.
Untuk melaksanakan rencana kegiatan yang berdasarkan hasil analisis K3A ada 4 pertanyaan yang bermanfaat :

a.   Bagaimana cara memperkaya atau memanfaatkan kekuatan?
b.   Bagaimana cara memperkuat atau menghindari kelemahan?
c.   Bagaimana cara memanfaatkan atau mengembangkan kesempatan?
d. Bagaimana cara mengurangi atau mengamankan ancaman yang dihadapi?




PETUNJUK LAPANGAN KE III
PEMBAGIAN PERAN

A.   Latar Belakang

Suatu manajemen yang baik apabila ada pembagian peran yang jelas, artinya setiap individu dalam organisasi tersebut dapat berperan sesuai fungsinya masing-masing atau dengan bahasa yang sederhana : ”siapa mau apa”. Peran tersebut akan berjalan dengan baik apabila dilakukan oleh orang yang tepat - memiliki kemampuan dan kemauan sesuai peran tersebut.
Dalam sekolah lapang, peserta berhak menentukan siapa berperan apa, sehingga masing-masing peserta memegang komitmen terhadap peran yang telah ditetapkan dan melaksanakan dengan penuh tanggungjawab.
     
B.   Tujuan
1.    Peserta mengetahui kapasitas sumberdaya manusia yang ada.
2.    Berdasarkan sumberdaya manusia yang tersedia sesuai kapasitasnya, peserta belajar menentukan perannya terkait dengan pelaksanaan SL-GAP/SOP..
3.    Peserta akan belajar berkomitmen sesuai dengan perannya dalam pelaksanaan SL-GAP/SOP budidaya Alpukat, karena mereka yang menentukan sendiri.

C.   Bahan dan Alat
Kertas plano/flipchart, spidol dan skotlite

D.   Tahapan Pelaksanaan
1.    Peserta mengidentifikasi peran-peran yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan SL dan kemampuan yang dimiliki peserta.
2.    Membuat matriks peran : apa/siapa, kemampuan yang dimiliki, sumbangan peran, harapan program.
3.    Menentukan struktur organisasi SL-GAP/SOP
4.    Menetapkan pembagian tugas, dan fungsi apa yang diperlukan serta siapa penanggungjawabnya.
5.    Menggambar bagan organisasi secara lengkap : siapa/apa tupoksinya.
6.    Mengaplikasikan di lapangan sesuai fungsinya.


E.   Diskusi
Apa perlu membuat struktur baru untuk GAP atau sama saja dengan struktur yang sudah ada



PETUNJUK LAPANGAN KE IV
PENGAMATAN ANALISIS DAN DISKUSI AGROEKOSISTEM ALPUKAT


A.   Latar Belakang

PHT pada tanaman Alpukat dikelola berdasarkan interaksi antara tnaman (Alpukat) – OPT – musuh alami – dan lingkungan di sekitarnya antara lain kondisi awal (kondisi benih) tahan atau rentan, OPT utama atau potensial, lingkungan biotik dan abiotik.
Didalam agroekosistem ada beberapa interaksi yang telah berkembanga cukup stabil selama beberapa tahun, namun hal ini dapat berkurang oleh tindakan budidaya yang diterapkan seperti penggunaan bahan kimia sintetis, misalnya aplikasi pestisida sintetis yang dapat menurunkan peran dan fungsi musuh alami.
Untuk memahami interaksi antara faktor dapat diketahui melalui terwujudnya kondisi yang mendukung bagi perkembangan Alpukat, menghasilkan buah secara optimal, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah :
1.    Setiap ekosistem bersifat dinamis, dalam arti jumlah, posisi, peranan dan intensitas setiap unsur/bagian akan berubah/berkembang secara terus menerus dan berganti setiap saat secara seimbang sebagaimana lazimnya suatu sistem hidup;
2.    Suatu agroekosistem ditandai syarat struktur atau jenjang hirarki. Musuh alami merupakan salah satu mata rantai jejaraing makanan yang berfungsi menekan perkembangan OPT. Namun demikian ketiadaan OPT juga akan mempengaruhi musuh alami; dan
3.    Ketiga unsur ekosistem (tanaman – OPT – musuh alami) dalam agroekosistem Alpukat merupakan suatu sistem yang saling terkait. Sehingga keseimbangan ketiga unsur ekosistem tersebut perlu dijaga agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Kegiatan pengamatan, analisis, penggambaran dan diskusi agroekosistem dilakukan secara kontinue (mingguan, dua mingguan, dll). Dengan harapan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan usahatanipada masa berikutnya.
     
B.   Tujuan

1.    Petani mampu dan dapat menjelaskan keseimbangan unsur-unsur agroekosistem Alpukat;
2.    Memahami dan mengetahui keadaan pertanaman Alpukat, pengamatan, menganalisis dan mengambil keputusan serta langkah-langkah yang akan diambil dalam budidaya Alpukat;

C.   Tahapan Pelaksanaan

1.    Pergi ke pertanaman Alpukat, ambil lima pohon secara acak diagonal;
2.    Amati dan catat :
a. Hama : amati bagian pucuk, bunga, buah, daun, ranting/cabang, dan batang;
b. Penyakit : amati bagian pucuk, bunga, buah, daun, ranting/cabang, batang dan bagian perakaran;
c.  Musuh alami : amati pucuk tanaman, bagian daun dan bagian tanaman lainnya;
d. Keadaan air dan gulma; amati keadaan air dan gulma; dan
e. Perlakuan pupuk dan pestisida/biopestisida/agens hayati, pemasangan perangkap atraktan umpan protein.
3.    Kembali ke tempat pertemuan/saung/tempat berteduh, dan setiap kelompok duduk bersama untuk diskusi dan menggambar keadaan agroekosistem. Penggambaran sesuai dengan keadaan lapangan (hasil pengamatan):gambar tanaman di tengah, OPT sebelah kiri tanaman, musuh alami sebelah kanan tanaman dan unsur ekosistem digambar sesuai tempatnya, misal matahari di atas tanaman dan seterusnya; Gambar juga tentang perlakukan pemupukan, pengairan, aplikasi pestisida/biopestisida/agens hayati, pembentukan pohon dan seterusnya
4.    Kemudian presentasikan dan diskusikan secara pleno serta diikuti pertanyaan-pertanyaan sesuai keadaan saat itu tentang kondisi tanaman (fenologi tanaman), hama-penyakit, musuh alami, tanah, air, gulma dan sebagainya;
5.    Buat kesimpulan tentang hasil pengamatan untuk mengambil keputusan usahatani Alpukat pada waktu berikutnya. Keputusan diambil secara bersama-sama dan untuk disepakati;
6.    Simpan hasil (gambar) agroekosistem untuk dibandingkan dengan hasil pengamatan berikutnya. Data dikumpulkan menjadi satu dalam kurun waktu tertentu; dan
7.    Lakukan kegiatan pengamatan, penggambaran dan diskusi, serta pertanyaan-pertanyaan agroekosistem menurut waktu yang ditentukan secara kontinue.


PETUNJUK LAPANGAN KE V
PERENCANAAN KEBUN


A.   Latar Belakang

Dalam budidaya Alpukat harus memperhatikan kondisi tanah misalnya topografi (derajat kemiringan tanah), saluran pengairan dan sebagainya sehingga akan mempermudah pekerjaan perawatan dan kegiatan lainnya di waktu mendatang.
Membuat rencana tata letak : tempat penampungan /bak air, arah barisan, Pembuatan Lubang tanam dan penampungan bahan-bahan usahatani Alpukat lainnya.

B.   Tujuan

1. Meningkatkan pengetahuan sikap dan ketrampilan tentang perencanaan kebun
2. Mendapatkan sketsa/desain kebun untuk memudahkan pemeliharaan tanaman hingga pemanenan hasil.

D.   Bahan dan Alat

1.    Kertas, alat tulis, penggaris
2.    Alat ukur jarak dan altimeter
3.    Ajir bambu
4.    Cangkul
5.    Form Pencatatan

E.     Tahapan Pelaksanaan

1.    Pergi ke kebun dimana tanaman Alpukat akan ditanam;
2.    Perhatikan letak, arah dan kemiringan lahan, dan letak akses jalan usahatani terdekat;
3.    Buat sketsa kebun;
4.    Buat desain mengenai letak titik lubang tanam, bak penampungan air.
5.    Buat lubang tanam.
6.    Diskusikan bagan kebun yang telah didesain untuk disepakati bersama;
7.    Mencatat dalam form pencatatan.

Catatan:
Ukuran lubang tanam 60 x 60 x 40 cm, Lubang tanam biarkan terbuka selama 2 – 3 minggu, Lapisan atas dicampur dengan pupuk kandang/ Organik  sebanyak 30 kg.







 



                                      







40 cm
 

B

 



60 cm
 
 







PETUNJUK LAPANGAN KE VI
PENYIAPAN BENIH BERMUTU


A.     Latar Belakang

      Kualitas benih berperan besar dalam keberhasilan budidaya Alpukat. Pengusahaan tanaman Alpukat tidak bisa terlepas dari pengadaan benih yang akan ditanam. Benih Alpukat bisa berasal dari okulasi dan sambung pucuk yang dipersiapkan jauh sebelum tanam.

B.    Tujuan

1. Memberikan pemahaman kepada peserta mengenai cara penyiapan benih Alpukat
2.  Memperoleh benih Alpukat unggul bermutu bebas OPT dan memiliki  pertumbuhan yang baik

C.    Bahan dan Alat

1.    Benih Alpukat (vegetatif dan generatif)
2.    Spidol, pensil, kertas flipchart
3.    Form Pencatatan

D.    Tahapan Pelaksanaan

1.    Peserta mampu menghitung kebutuhan benih sesuai dengan kebutuhan di lapangan/luas kebun
2.    benih bersertifikat dengan varietas yang diinginkan dipesan/dibeli pada penangkar yang terpercaya
3.    memilih benih yang bersertifikat, berasal dari PIT yang jelas serta mempunyai  batang bawah yang kuat dan tahan terhadap hama penyakit.
4.    Mencatat dalam form pencatatan

E.     Bahan Diskusi

  • Kegiatan-kegiatan apa yang telah dilakukan tentang penyiapan benih bermutu

Catatan :
Masing-masing jenis tanaman perlu mendapat perlakukan tertentu sebelum dilakukan penanaman dan saat penanaman disesuaikan dengan waktu tanam/musim tanam yang tepat.
Untuk mengoptimalkan lahan, petani perlu melakukan :
·           Penambahan unsur hara melalui pemupukan
·           Pengaturan pola tanam untuk memutus siklus hama penyakit dengan tidak membudidayakan jenis tanaman yang sama secara terus menerus. Ini disebut rotasi tanaman.
·           Sangat diajurkan penggunaan benih  bermutu dan berlabel
·           Pengaturan air bagi keperluan irigasi atau drainase.



PETUNJUK LAPANGAN KE VII
PENANAMAN  BENIH ALPUKAT


A.   Latar Belakang

Penanaman Alpukat merupakan suatu rantai kegiatan usahatani Alpukat yang dilakukan pada lahan yang telah dipersiapkan untuk kebun Alpukat. Kegiatan penanaman benih sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, jika dilakukan sebelum awal musim hujan harus dijaga agar tanaman tidak kekurangan air.
Proses penanaman yang benar akan memberikan akses benih untuk tumbuh dan berkembang menjadi tanaman yang baik sesuai harapan

B.  Tujuan

  1. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan menanam benih Alpukat, dan
  2. Memperoleh pertanaman Alpukat yang sesuai dan dari benih tanaman yang sehat

C.  Bahan dan Alat

1.    Benih Alpukat sehat
2.    Pupuk organic/kompos, SP 36
3.    Cangkul dan sekop
4.    Pisau dan gunting
5.    Form Pencatatan

D.  Tahapan Pelaksanaan

1.    Peserta memastikan bahwa lahan telah siap untuk ditanam.
2.    mempersiapkan peralatan dan benih Alpukat sehat;
3.    Mempersiapkan lubang tanam dengan ukuran 60 cm x 60 cm, kedalaman 40 cm ,  Memeriksa kesiapan lubang tanam dengan cara menutup lubang tanam yang telah dibiarkan selama 2 minggu, hingga seperempat volume lubang. Campur sisa tanah galian dengan pupuk kandang/kompos lubang. Campur sisa tanah galian dengan pupuk kandang/kompos sebanyak 80 kg pada tanah liat dan 40 kg pada tanah gembur, SP-36:200 gram, kapur 2 kg. Pupuk kandang/kompos sebelum dicampur diaplikasi dengan 100 gram media padat Tricoderma spp atau Glicladium sp secara merata;
4.    Dibiarkan satu minggu, setelah itu bejih ditanam dengan cara :
·         Membuat lubang tanam lebih besar dari polybag/media benih;
·         Membuka polybag dengan hati-hati agar akar tidak terputus dan media semai tidak berhamburan. Sebaiknya benih disiram dengan air secukupnya sebelum ditanam;
·         Memasukkan benih ke lubang tanam sedalam leher akar, lalu ditimbun dengan tanah agak dipadatkan dan diberi ajir samping batang benih untuk menopang agar posisi batang tegak lurus. Benih asal okulasi, dihadapkan ke arah datangnya angin agar tunas tempelan tidak mudah sempal. Untuk benih yang berasal dari benih sambungan, arah celah sambungan tegak lurus dengan arah angin;
·         Menyiram benih yang baru dipindah. Permukaan tanah ditutupi dengan rumput kering untuk mengurangi sentuhan siraman air langsung pada tanah dan menjaga kelembaban lingkungan tanah.
5.    Mencatat dalam form pencatatan

F.     Bahan Diskusi

1.    Jarak tanaman yang optimal.
2.    Bahan tanaman yang digunakan





PETUNJUK LAPANGAN KE VIII
PEMUPUKAN

A.   Latar Belakang

Agar tanaman dapat tumbuh dengan optimal maka unsur mikro dan makro harus terpenuhi melalui pemberian pupuk, karena kekurangan unsur hara akan menyebabkan produktivitas dan kualitas buah rendah. Pemupukan harus dilakukan secara tepat baik saat pemberian, cara pemberian, jenis pupuk yang digunakan dan dosisnya agar buah yang diproduksi optimum, memiliki ukuran, bentuk dan penampilan luar yang baik serta rasa yang sesuai.


B.  Tujuan

1.    Meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam pemupukan tanaman Alpukat;
2.    Mempertahankan/meningkatkan status unsur hara dalam tanah;
3.    Menyediakan unsur hara secara seimbang bagi pertumbuhan tanaman;
4.    Meningkatkan produktivitas dan kualitas buah.

C.  Bahan dan Alat

1.    Pupuk organic dan anorganik (pupuk kompos/kandang, Urea, ZA, SP 36, KCL, dolomite); dan
2.    cangkul, sabit, hand sprayer/power sprayer, alat angkut;
3.    Form Pencatatan

D.  Tahapan Pelaksanaan

1.    Pergi ke lahan Alpukat, cek jumlah tanaman dan umurnya (vegetatif atau generatif), serta tingkat kesuburan tanah (hasil uji tanah/hasil analisis tanah, jika memungkinkan);
2.    Buat selokan kecil melingkar sedalam 20-30 cm di sekeliling tanaman selebar tajuk tanaman;
3.    Memberikan pupuk sesuai dengan dosis seperti tabel dibawah ini :
Umur (Tahun)
Pupuk Organik (Kg)**
Urea (gram)*
TSP (gram)**
KCL/ZK (gram)*
1
2
3
4
5
6-8
> 8
10
15
20
25
30
35
40
250
300
350
400
450
500
> 600
100
150
200
250
300
350
400
250
300
350
400
450
500
600
*  Diberikan 4 kali setahun (masing-masing ¼ dosis) sampai umur 2 tahun dan menjadi 2 kali setahun (masing-masing ½ dosis) sesudahnya.
** Diberikan 1-2 kali setahun
4.    Baca label sebelum melakukan pemupukan (tanggal kadaluarsa, saran penggunaan, dll);
5.    Gunakan kelengkapan yang dianjurkan untuk pekerja (sarung tangan, masker, dll sesuai petunjuk) saat melakukan pemupukan;
6.    Untuk fase generatif atau tanaman buah produktif 3 kali setahun. Menjelang berbunga komposisi pupuk P lebih tinggi dan untuk pembesaran buah (buah sebesar kelereng) diberikan pupuk dengan komposisi K lebih tinggi. Pupuk untuk setelah panen komposisi N- nya lebih tinggi;
7.    Menutup selokan dengan tanah bekas galian;
8.    Memberikan air secukupnya (tanah sekeliling tanaman sampai basah);
9.    Mencatat dalam form pencatatan

F.  Bahan Diskusi

1.    Pengaruh jenis pupuk.
2.    Fase yang paling efektif dalam pemupukan.
3.    Bahaya pupuk bagi pekerja
4.    Bahaya residu pupuk bagi kesehatan manusia
5.    Bahaya residu pupuk kimia bagi tingkat kesuburan tanah

Catatan :
  • Tanaman memperoleh unsur hara dari pemupukan baik pupuk organik seperti pupuk kandang maupun pupuk anorganik seperti pupuk N (ZA, Urea, dll), pupuk P (SP-36, dll) dan pupuk K (KCL, dll) serta pupuk majemuk (NPK). Petani harus hati-hati dalam mengaplikasikan pupuk organik dan pupuk anorganik.
  • Pupuk Organik diantaranya mengandung mikroba yang dapat mengkontaminasi petani. Oleh karena itu petani harus mencuci tangan setelah melakukan pemupukan.
  • Beberapa pupuk anorganik dapat menimbulkan  gangguan kesehatan seperti iritasi kulit atau keracunan. Untuk keamanan, petani harus mematuhi tata cara penggunaan yang terdapat pada label. Sebaiknya menggunakan kelengkapan pakaian kerja yang tepat seperti masker, sarung tangan, topi dan sepatu yang sesuai.


































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mohon konfermasi balik....dari anda terhormat. Biar tampilan lebih baik.